« Bataviawalks, Menyusuri Masjid Tua di Jakarta bersama Anak Jalanan dan Yatim | Main | Sejarah Kita Berawal dari Kutai »

November 04, 2004

"SOS" Situs Kerajaan Tertua di Indonesia

MUARA Kaman, kampung yang terletak sekitar 110 kilometer ke arah hulu Sungai Mahakam dari Kota Samarinda, mempunyai arti sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Tonggak penanda awal sejarah negara Indonesia ini memiliki data tekstual tertua, yakni dibuat pada awal abad V.

Bahkan, berbagai temuan artefak budaya purbakala hingga sekarang masih sering ditemukan di tempat tersebut. Penelitian terakhir yang dilakukan berhasil menemukan sejumlah artefak yang cukup penting untuk merekonstruksi sejarah Kerajaan Kutai, kerajaan tertua di Indonesia.

Para peneliti dari Universitas Negeri Malang bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Kutai Kartanegara merekomendasikan agar tempat tersebut segera dilindungi dengan peraturan daerah dan menjadikannya sebagai kawasan taman purbakala nasional. Hal tersebut didasari berbagai temuan penelitian yang dilakukan dari 12-31 September 2004 itu sangat penting artinya. Baik untuk ilmu pengetahuan maupun pengembangan wisata budaya dan sejarah.

Kepala Balai Arkeologi Banjarmasin Gunadi yang juga ikut dalam penelitian tersebut mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara segera melindungi situs-situs sejarah yang terdapat di Muara Kaman. "Situs tersebut sangat penting artinya bagi ilmu pengetahuan, juga untuk pengembangan wisata sejarah bagi Kutai Kartanegara," katanya.

Salah seorang peneliti dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengatakan, berbagai temuan yang ada di situs Muara Kaman tersebut sangat penting, tidak hanya bagi sejarah lokal, tetapi juga nasional. Menurut dia, telaah sejarah Kutai yang dilakukan selama ini masih terasa kurang dan lebih banyak hanya berdasar analisis tekstual berupa prasasti Yupa dan naskah Salasilah Kutai.

Analisis artefaktual masih sangat kurang dan belum bisa mengungkap "periode gelap" sejarah Kutai yang cukup panjang. Hingga saat ini, menurut Dwi Cahyono, terjadi ketidakjelasan sejarah sejak Kerajaan Kutai Martapura, kerajaan Hindu yang pernah dipimpin raja terkenal Mulawarman pada abad V, hingga kemunculan kerajaan Islam pada abad XIII.

"Masa itu disebut periode gelap karena hingga sekarang tidak ada data tekstual atau artefak yang bisa mengungkapkan apa yang terjadi pada masa tersebut," kata Dwi Cahyono. Menurut dia, bukan tidak mungkin dari eksplorasi sumber data artefak yang cukup melimpah itu, kesinambungan sejarah Kutai bisa direkonstruksi kembali.

TIDAK hanya penting bagi ilmu pengetahuan, situs Muara Kaman juga dinilai sangat potensial untuk pengembangan pariwisata bagi Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun, berbagai situs Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman itu terancam rusak jika tidak segera dilindungi atau mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah setempat.

"Penelitian sekaligus penyelamatan situs-situs tersebut harus segera dilakukan, misalnya dengan membuat peraturan daerah tentang cagar budaya. Selain itu juga perlu dilakukan dokumentasi dan inventarisasi atau tempat penyimpanan barang yang ditemukan, berupa museum site," kata Dwi Cahyono.

Pengalaman membuktikan, tanpa adanya perhatian di kawasan yang kaya peninggalan sejarah purbakala, terjadi apa yang disebut oleh ahli sejarah sebagai "petaka purbakala". Sekitar tahun 1991 hingga 1995 terjadi banyak penggalian liar di situs-situs sejarah tersebut, yang membuat ribuan peninggalan purbakala tersebut rusak dan hilang.

"Bahkan, di salah satu tempat yang banyak menyimpan benda bersejarah, seperti di kawasan Benua Lawas, masih terdapat lubang- lubang bekas galian liar," ungkap Dwi Cahyono. Untuk kawasan situs Tajung Gelumbang di Benua Lawas sudah dalam status "SOS" dan perlu mendapat penanganan segera.

Wakil Bupati Kutai Kartanegara Samsuri Aspar mengatakan, tempat-tempat bersejarah di Muara Kaman tersebut perlu dilindungi. "Kawasan itu memang bisa dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah untuk menarik wisatawan," katanya.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Kartanegara Bachtiar Effendi pun sependapat. Kenyataannya, perhatian pemerintah daerah setempat ternyata terasa sangat kurang. Meskipun dianggap penting, kondisi situs yang ada di Muara Kaman masih terlihat kurang mendapat perhatian.

Sekarang ini kondisi berbagai situs di Muara Kaman, seperti di Benua Lawas atau Bukit Brubus, memprihatinkan. Berbagai situs seperti lesung batu, nisan, dan berbagai peninggalan lain itu kurang terawat.

Pemantauan Kompas di tempat tersebut, situs yang potensial dikembangkan menjadi wisata sejarah itu tampak terbengkalai. Semak belukar dan rumput liar dibiarkan tumbuh lebat di sekitar situs-situs tersebut.

Sampah plastik dibiarkan menumpuk begitu saja di sekitar situs. Bahkan, sewaktu-waktu situs itu bisa rusak terbakar jika kebakaran yang terjadi di semak-semak kering di sekitar situs meluas.

Karnain (50), warga setempat yang secara sukarela menjaga tempat itu, mengatakan tempat itu memang kurang terawat. "Memang sayang dibiarkan kurang terawat, hanya sejumlah warga yang kadang berdoa di tempat ini kadang membersihkan. Saya sendiri secara sukarela menjaga agar situs ini tidak dirusak atau dicuri orang," katanya.

Kenyataan tersebut sungguh berbeda dengan niat Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk mengembangkan wisata sejarah dari peninggalan kerajaan-kerajaan di Kutai. Meskipun untuk niat ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara, yang ditandai dengan penabalan sultan baru pada tahun 2001, hingga memunculkan pro dan kontra tentang menghidupkan kembali semangat "feodalisme".

Jika mau sungguh-sungguh mengembangkan wisata sejarah, tentunya tidak bisa dilupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Kutai Martapura dari abad V. Sekarang ini sisa-sisa sejarah itu dalam kondisi memprihatinkan dan sedang menunggu diselamatkan. (RAY)

Sumber: Kompas, Rabu 3 November 2004, Rubrik Nusantara, hlm 31

Posted by Sinta at November 4, 2004 04:46 AM

Comments

Post a comment




Remember Me?