« Bangunan Tua Pun Kian Sirna | Main | International Seminar and Workshop on Heritage Conservation in Buton Castle »

November 02, 2004

Medan Menuju Kota Metropolitan

DATANGLAH sekarang ke Medan. Lihat kehidupan baru, geliat pembangunan dan bisnis yang nyaris berdenyut hampir 24 jam. "Ini Medan Bung", ungkapan klasik untuk menggambarkan betapa "keras" dan tingginya egoisme warga Kota Medan itu kini setahap demi setahap tampak mulai pudar. Sampai sekarang, satu-satunya bentuk "kekerasan" yang masih tersisa di Medan barangkali hanya satu, yakni soal kesemrawutan lalu lintas dan ulah para pengemudi yang seenaknya berkendara.

MELALUI moto pemacu semangat: "Bekerja sama dan sama- sama bekerja", Pemerintah Kota (Pemkot) Medan sejak tiga tahun terakhir terus berupaya menghidupkan kembali nostalgia dan citra masa lalu sebagai salah satu pusat dagang dan bisnis terkemuka di Tanah Air.

"Dalam satu-dua tahun ke depan, Kota Medan diharapkan menjadi pilihan wisata belanja bagi semua orang. Untuk mewujudkan itu, kuncinya adalah semua harus ada di sini. Karena itulah, sebagai langkah awal kita bangun beragam sarana dan prasarana pendukung, mulai dari jaminan keamanan 24 jam hingga membangun berbagai pusat perbelanjaan modern seperti mal dan plaza," ungkap Wali Kota Medan Abdillah dalam perbincangan dengan Kompas, akhir pekan lalu.

Pesatnya pembangunan mal dan plaza di Medan dua tahun terakhir ini setidaknya memang bisa menjadi indikasi betapa Pemkot Medan memang serius menggapai cita-cita untuk menjadikan Medan sebagai pusat perdagangan berkembang di Sumatera. Lihat saja kawasan pusat kota yang secara historis dari dulu memang menjadi sentra bisnis dan perdagangan, seperti di Jalan Gatot Subroto, Jalan Zainul Arifin, Jalan Imam Bonjol, dan sekitar kawasan Kantor Wali Kota Medan. Di sini sekarang bermunculan plaza dan mal modern, bangunan baru bertingkat dengan tawaran berbagai kemudahan belanja dan perdagangan.

Dalam tiga tahun terakhir (sejak tahun 2001) Pemkot Medan mencatat paling tidak ada 11 plaza dan tiga mal baru yang ikut menyemarakkan denyut kehidupan bisnis dan perdagangan di ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini. Pada kurun waktu yang sama hingga tahun 2004 ini, total investasi di Kota Medan berkisar antara Rp 8 triliun dan Rp 10 triliun.

"Dilihat dari aktivitas pembangunan fisik kota, sepertinya Kota Medan sekarang betul-betul sudah terbebas dari krisis. Lihat saja geliat investasi di bidang ritel, properti, dan bisnis lain, tampak tumbuh subur bak jamur di musim hujan," kata Jhon Tafbu Ritonga, pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU).

Kuncinya, kata Abdillah, tidak terlepas dari situasi dan kondisi keamanan yang kondusif di daerah ini.

Di samping itu, letak geografis Medan yang strategis-hanya sekitar satu jam terbang dengan pesawat dari Singapura, Penang, atau Kuala Lumpur (Malaysia)-membuat kota ini kian menggiurkan sebagai lahan investasi.

MEMBANGUN Kota Medan menjadi pusat perdagangan, bisnis, dan jasa di Sumatera memang bukanlah sekadar mimpi di siang bolong. Sebab, kalau dilihat sejarah kota yang kini dihuni sekitar 2,1 juta jiwa itu, sejak ratusan tahun lalu sudah jadi pusat perdagangan masyhur hingga ke Eropa.

Salah satu booklet yang diterbitkan Pemkot Medan menukilkan, Medan, yang dalam bahasa Melayu berarti tempat yang luas untuk berkumpul, sejak zaman dulu memang menjadi tempat berkumpulnya para pedagang dan "petaruh" dari kawasan Hamparan Perak, Stabat, Suka Piring, dan lain-lain.

Ketika dibangun sekitar tahun 1590 oleh Guru Patimpus, keturunan Raja Singa Mahraja yang memerintah Negeri Bakerah di Dataran Tinggi Karo, Medan hanyalah sebuah perkampungan kecil bernama Medan Puteri. Sekitar awal abad XVII tempat ini jadi rebutan antara Aceh dan penguasa Tanah Deli.

Posisi ini sangat strategis, terletak pada pertemuan dua sungai, Sungai Deli dan Sungai Babura, yang memang sejak dulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang ramai.

Perkembangan Medan sebagai pusat perdagangan justru semakin pesat sejak dibukanya lahan perkebunan tembakau. Tengku Lukman Sinar dalam bukunya, Sejarah Medan Tempo Doeloe, menulis bahwa awalnya seorang Arab Surabaya bernama Said Abdullah Bilsagih, yang menjadi ipar Sultan Mahmud Perkasa Alam Deli, mengajak beberapa pedagang Belanda di Jawa untuk menanam tembakau di Tanah Deli.

Setelah bercocok tanam tembakau, sekitar tahun 1864 hasil panen tembakau Deli ini dikirim ke Rotterdam, Belanda. Ternyata, tembakau Deli mendapat sambutan hangat karena kualitasnya yang sangat baik sebagai pembalut cerutu.

Diakui, pembangunan mal, plaza, dan pusat pasar berskala besar dengan arsitektur modern bukanlah dimaksudkan untuk "mengubur" identitas Medan sebagai kota tua. Sebab, sejumlah bangunan tua tetap akan menjadi ciri khas kota ini. Sebut, misalnya, Balaikota Medan yang lama, yang dibangun sekitar tahun 1900, tetap akan dijadikan landmark kota, kendati di kawasan itu akan didirikan bangunan baru bernama The City Hall, sebuah pusat pertokoan dan hotel.

Menurut Jhon Tafbu, sebagai sebuah kota yang miskin sumber daya alam, bagaimanapun kota itu harus mengandalkan hidup pada sektor bisnis, jasa, perdagangan, dan lain-lain.

OBSESI membangun kembali Parijs van Sumatera (kembaran Paris di Sumatera) di Kampung Guru Patimpus selayaknya memang tidak harus mengorbankan masyarakat, terutama mereka yang bermukim di pinggiran kota. Sebab, warga memiliki potensi dan kekuatan besar untuk mewujudkan obsesi itu. Dalam konteks inilah, seyogianya konsentrasi pemkot juga menyentuh para pelaku ekonomi marjinal.

"Keuntungan yang diraih Pemkot Medan dari kemunculan plaza, mal, dan pusat bisnis seharusnya diinvestasikan kembali untuk menata pinggiran kota. Jika itu tidak dilakukan, kekhawatiran kita bahwa masyarakat akan terpinggirkan dan mereka hanya jadi penonton bisa jadi terbukti nanti. Bayangkan saja, dari sekitar dua juta penduduk Kota Medan, sekitar 1,4 juta orang berpotensi menjadi penonton aktif yang hanya bisa sekadar mejeng di plaza-plaza," ujar Jhon Tafbu.

Dilihat dari potret ekonomi Kota Medan saat ini, tampak jelas adanya sesuatu yang perlu disikapi. Lihat saja struktur ekonomi Medan yang masih didominasi struktur tersier (sekitar 67 persen). Sedangkan struktur ekonomi primer sekitar 4,11 persen dan sekunder sekitar 28,9 persen. Tingkat pengangguran terbuka (data tahun 2003) tercatat 15,23 persen.

Namun, Jhon Tafbu yang juga Ketua Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan USU itu mengakui, dari segi ekonomi dan transaksi perbankan, ada potensi besar yang dimiliki warga Kota Medan, yakni tingginya potensi mereka yang punya uang dan menabung di bank- bank. Tahun 2002 jumlah simpanan masyarakat di perbankan di Medan tercatat Rp 21,2 triliun. Tiga tahun kemudian, hingga Mei 2004, angka ini melonjak drastis menjadi Rp 30,8 triliun.

"Kampung kecil" Guru Patimpus ini sekarang tampak tengah menapak untuk menjadi sebuah kota metropolitan. Akan tetapi, nuansa metropolitan itu tentu tidak melulu harus digambarkan dengan gemerlap lampu di malam hari. Bukan pula diwujudkan dengan megahnya plaza, mal, dan pusat belanja modern.

Semangat Medan Metropolitan tentu harus pula menyentuh mereka yang berada di pinggiran, yang menjadi bagian mayoritas dari dua juta penduduk kota ini….

(Ahmad Zulkani/ Hamzirwan/Ahmad Arif)

Sumber: Kompas Senin, 1 November 2004, Rubrik Teropong, hlm 30

Posted by Sinta at November 2, 2004 03:40 AM

Comments

Post a comment




Remember Me?