« October 2004 | Main | December 2004 »
November 27, 2004
Berlanjut, Pembongkaran Bangunan Bersejarah
Medan, Kompas - Pembongkaran bangunan-bangunan tua di kawasan Kesawan, Medan, Sumatera Utara, terus terjadi. Kali ini yang jadi korban adalah gedung eks Bank Modern yang dibangun pada tahun 1929 oleh salah satu perusahaan Belanda. Pembongkaran ini dikhawatirkan akan menghilangkan identitas Kota Medan sebagai kota yang kaya dengan bangunan bersejarah.
Berdasar pengamatan pada hari Selasa (26/10), gedung tua yang berada di simpang tiga kawasan Kesawan ini telah dihancurkan bagian atapnya dan seluruh dinding dalam bangunan sehingga hanya menyisakan bagian depan dan samping gedung.
Executive Director Badan Warisan Sumatera Ir Soehardi Hartono MSc mengimbau agar pihak developer meninjau ulang pengembangan area bagian dalam gedung di Jalan Kesawan No 38 tersebut menjadi rumah toko berlantai lima.
Menurutnya, pembangunan tersebut akan merusak keutuhan rancangan arsitektur sebagai sebuah bangunan bersejarah. "Di samping itu, jika gedung baru itu nantinya berlantai lima, walaupun bentuk asli bangunan tetap dipertahankan di bagian depan dan samping, bangunan baru itu tetap saja mengubah bagian depan bangunan dari 2 lantai menjadi 5 lantai. Ini berarti melanggar Perda Nomor 6 Tahun 1988," sesal Soehardi.
Kepala Dinas Tata Kota Medan Irman Dj Oemar mengatakan, walaupun dibongkar, tampak bangunan tersebut tetap akan dipertahankan. "Kami tetap akan meminta pengembang tidak mengubah tampak bangunan.
Dalam perda disebutkan yang harus dipertahankan hanya tampak bangunan, sedangkan bagian dalam bisa diubah," katanya.
Irman menambahkan, konstruksi bangunan yang baru tidak akan merusak konstruksi yang lama. "Walaupun bangunannya nanti jadi lima lantai, tetapi pengembang akan diberi perkuatan tiang baja sehingga beban bangunan tidak ditumpukan pada bangunan yang lama. Bangunan yang baru juga akan menggunakan atap yang desainnya sama dengan bangunan lama," katanya.
Namun, Soehardi mengatakan, sejak dikeluarkannya perda tentang perlindungan bangunan di Kota Medan pada tahun 1988 tersebut sudah puluhan bangunan bersejarah yang dihancurkan. Misalnya, eks Gedung Kerapatan Adat Deli pada tahun 1989, bangunan SMPN I Medan pada tahun 1999, eks bangunan Mega Eltra tahun 2001, penghancuran sembilan rumah panggung di Jalan Timur, dan puluhan bangunan bersejarah di Jalan Kesuma.
Bernilai sejarah
Soehardi mengatakan, gedung dengan ornamen paduan Eropa dan lokal itu dulu merupakan Kantor Perwakilan Stork, perusahaan Belanda yang memproduksi dan menjual mesin-mesin industri perkebunan.
Menurutnya, bangunan bersejarah tersebut dulunya sangat penting dalam perkembangan industri perkebunan di Sumatera Utara.
Karena itu, kata Soehardi, tidak hanya nilai arsitekturnya saja yang tinggi, tetapi gedung eks Bank Modern ini perlu diselamatkan karena gedung itu memiliki nilai sejarah bagi kawasan Kesawan dan Kota Medan sendiri.
"Bangunan tersebut seharusnya bisa menjadi kantor yang paling eksklusif dan menarik. Di Amsterdam dan kota-kota lain di Eropa, bangunan tua bisa dijadikan atraksi bersejarah untuk pariwisata," katanya.
Dan bagi developer, katanya, harga bangunan ini nantinya malah akan lebih tinggi lagi kalau karakter luar gedung ini tetap dipertahankan dan dikombinasikan dengan yang baru di dalam dan di belakang gedung.
"Tiap kota punya tanggung jawab untuk mempertahankan bukti sejarah yang menjadi atmosfer dan jiwa kota itu sendiri. Jangan sampai hilang," katanya.(AIK)
Sumber: http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0410/27/daerah/1350816.htm
Kompas, Rabu, 27 Oktober 2004
Posted by Sinta at 05:07 AM | Comments (0)
Pelestarian Warisan Seni Bangunan Indis di Bandung
Oleh: Widjaja Martokusumo
GELOMBANG modernisasi di Indonesia ditengarai dengan proses urbanisasi, pembangunan baru dan hilangnya jati diri kota-kota asli atau tradisional. Modernisasi seringkali tidak menyisakan tempat untuk bangunan tua atau bersejarah, yang sebenarnya memiliki peran penting dalam pembentukan jati diri suatu tempat. Tidak sedikit warisan arsitektural berupa bangunan bergaya Indo-Eropa (Indische Architektur) di Indonesia yang menawarkan berbagai keunggulan dalam hal teknik dan seni bangunan. Terlepas dari rendahnya kesadaran publik, disahkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (UUBG) membuka peluang bagi perlindungan dan pemanfaatan bangunan bersejarah.
KOTA Bandung pernah menjadi wadah "eksperimen arsitektur" pada awal abad ke-20 setelah berstatus gemeente pada tanggal 1 April 1906. Karena kondisi alamnya yang baik, saat itu Bandung pun direncanakan sebagai pusat pemerintahan kolonial di Hindia Belanda. Kota Bandung tidak saja dilengkapi berbagai infrastruktur kota, penataan ruang kotanya pun direncanakan dengan baik.
Puncak pembangunan Bandung terjadi pada rentang tahun 1920-1940-an ketika para arsitek Belanda mencoba melakukan inovasi dalam seni bangunan yang berbeda dari apa yang lazimnya dilakukan di negeri asal mereka yang beriklim subtropis. Menurut Helen Jessup, hal tersebut berkaitan dengan gerakan pembaharuan dalam arsitektur nasional dan internasional, yakni upaya mencari identitas arsitektur kolonial Belanda di tanah jajahan yang juga merujuk pada arsitektur tradisional Nusantara (Jawa).
Kehadiran arsitektur hibrid tersebut bukan saja menjadi bukti perpaduan budaya Barat dan lokal/vernakular (Timur) di Bandung, namun juga merupakan rekayasa sempurna ketika seni bangunan Barat mencoba tanggap terhadap kondisi lokal.
Perkembangan ini tidak lepas dari nama seperti Ed Cuypers, PAJ Moojen, dan Henri Maclaine Pont. Ketiganya merupakan arsitek yang berhasil merintis wacana dan memadukan langgam arsitektur Barat dengan bentuk arsitektur tradisional atau lokal Nusantara, yang mana pada perkembangannya kemudian sering disebut sebagai Indo-Europeesche Architectuur Stijl.
Menurut Charles Prosper Wolff Schoemaker, guru besar arsitektur Technische Hogeschool Bandoeng (ITB) tahun 1924-1938, ciri bangunan berlanggam arsitektur Indo-Eropa ini relatif mudah dikenali. Sosok bangunan umumnya simetris, memiliki ritme vertikal dan horizontal relatif sama kuat. Konstruksi bangunan disesuaikan dengan iklim tropis, terutama pada pengaturan ruang, pemasukan pencahayaan sinar Matahari, dan perlindungan terhadap curah hujan. Pencarian bentuk arsitektur yang responsif terhadap kondisi iklim dan geografis setempat inilah yang membawa pada seni bangunan baru, yakni Arsitektur Indis.
PADA intinya, seni budaya lokal atau Nusantara juga mempunyai karakteristik sendiri seperti halnya pada seni bangsa Barat. Pentingnya pemahaman seni budaya Nusantara yang meliputi faktor konstruksi bangunan, kesehatan, dan ekonomi bukanlah sekadar konservatisme. Sungguhpun demikian, pada hakikatnya jiwa diri (aspek lokalitas) terdalam yang dimiliki bangsa pribumi harus ditonjolkan.
Berlage juga merujuk pada pendapat Schoemaker bahwa gaya Indo-Eropa hanya akan terjadi oleh adanya dialektika yang mendalam antara kedua unsur lokal dan Eklektik-Eropa, baik unsur konstruksi maupun bentuk seninya. Akan tetapi, yang terakhir ini hanya dapat diciptakan komunitas lokal sendiri. Selain Schoemaker, Henri Maclaine Pont dan Thomas Karsten termasuk ke dalam kelompok ini (lihat H Kunto, 1984).
Sebagai produk percampuran dua kebudayaan yang berbeda, arsitektur Indis di Bandung menawarkan pengayaan baru di dalam khazanah seni bangunan dan seni bina kota. Meski demikian, eksistensi bangunan berlanggam arsitektur Indis semakin lama justru terancam.
Sering kali hilangnya bangunan yang telah lama membentuk tengeran lingkungan Kota Bandung acapkali luput dari perhatian publik. Kalaupun bertahan, sejumlah besar bangunan itu dapat dipastikan berada dalam kondisi merana. Kiranya tidaklah berlebihan jika bangunan arsitektur Indis yang sarat dengan kearifan dalam menyikapi konteks lokal (teknologi dan iklim) dipahami sebagai bagian sejarah perkembangan kota. Artinya, diperlukan usaha lebih kritis dalam menyertakan keberadaan artefak tersebut ke dalam kebijakan pembangunan kota, yaitu dengan cara melestarikannya.
Inti yang hendak disampaikan adalah pelestarian warisan arsitektur atau bangunan tua, yang dalam UUBG Pasal 38 menjadi bagian dari kegiatan pembangunan lingkungan, dapat memberi kontribusi bagi pengayaan budaya membangun. Selain itu, pelestarian bangunan berlanggam arsitektur Indis menjadi signifikan bila dipahami sebagai proses transformasi sosio-kultural yang terjadi dalam masyarakat dan sekaligus sebagai upaya peningkatan kualitas lingkungan perkotaan.
Perlu diakui, musnahnya bangunan tua bukan semata-mata karena keterbatasan pengelola kota secara administratif, tetapi memang juga perbedaan aspirasi dan kepedulian masyarakat akan hakikat pelestarian bangunan tua. Pada sisi lain, orientasi yang kaku terhadap tuntutan ekonomi tidak hanya menyebabkan disorientasi pembangunan fisik, tetapi juga penolakan terhadap konsep dan produk seni bangunan yang telah terbina, termasuk warisan arsitektur atau bangunan tua.
Bangunan tua yang dikuasai individu relatif lebih rentan dihancurkan dibandingkan dengan bangunan milik pemerintah atau negara. Sebenarnya, meskipun dikuasai individu, keberadaan bangunan tua tersebut tetap dapat memberi kontribusi bagi wajah lingkungan kota. Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa pemilik bangunan tua tidak dapat berbuat sesuka hati terhadap bangunan miliknya, apalagi jika bangunan itu berpotensi menjadi penanda kota (tengeran).
Penilaian sebuah bangunan layak dilestarikan bukan hanya karena pertimbangan nilai arsitektural murni, namun harus dipadukan dengan pertimbangan kesejarahan, sosio-kultural, keilmuan, dan politis. Repotnya, persoalan makna kultural sulit dikuantifikasikan.
Ironisnya, bila dibandingkan dengan kota lain, seperti Medan dan Jakarta, Kota Bandung ternyata masih jauh tertinggal dalam segi perlindungan bangunan bersejarah. Kota Bandung hingga kini memang belum memiliki aturan baku yang tegas mengatur dan menjamin keberadaan aset budaya bangunan meski UUBG telah menyatakan keberadaan bangunan yang memiliki makna khusus atau bersejarah harus dilindungi.
UUBG telah diberlakukan pada tanggal 16 Desember 2003 sehingga Pemerintah Kota Bandung seharusnya sudah mulai mempersiapkan visi yang jelas tentang keberadaan bangunan bersejarah. Dengan adanya otonomi daerah, terbuka kesempatan bagi pemerintah provinsi/kota untuk mengatur dan mengelola persoalan bangunan gedung, termasuk kegiatan pelestarian bangunan tua atau bersejarah.
Jika dikaitkan dengan upaya penyelamatan warisan arsitektur, hakikat dari pelestarian warisan arsitektur (aset budaya bangsa) mengarah pada proses apresiasi dan pembukaan wawasan intelektual (edukatif). Pentingnya keberadaan bangunan lama di kawasan kota terletak pada kontribusi memorialnya dalam membentuk karakter lingkungan binaan di sekitarnya, namun bukan menuju pada romantisme belaka!
Meski sejarah bangunan hingga kini masih menjadi sumber penting bagi pelestarian bangunan lama, namun pelestarian bangunan dan lingkungan atas nama sejarah harus membuka penafsiran baru akan makna baru. Artinya, keterkaitan antarkeberadaan bangunan dan eksistensi komunitasnya akan selalu menuntut penafsiran baru. Jadi, bangunan tua seharusnya menjadi investasi kegiatan lain yang mampu memberi perspektif kehidupan baru komunitasnya.
Dengan argumen ini, maka seharusnya memungkinkan fungsi bangunan lama untuk dimanfaatkan untuk kegiatan baru yang lebih relevan selain memungkinkan pula pengalihan kegiatan lama oleh aktivitas baru tanpa harus menghancurkannya.
Akhirnya, sebagai bagian penting dari kebijakan pembangunan kota upaya pelestarian bangunan berlanggam arsitektur Indis tidak saja memfokuskan pada pembangunan budaya dan peradaban, tetapi secara kritis harus tanggap terhadap persoalan ekonomi lokal dan segala aspeknya.
Widjaja Martokusumo Koordinator Joint-Program Magister Rancang Kota, Departemen Arsitektur ITB
Sumber: http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0405/23/desain/1036118.htm
Kompas Minggu, 23 Mei 2004
Posted by Sinta at 04:50 AM | Comments (0)
Gedung-gedung Tua Akan Dibongkar untuk Mal dan Hotel
Palembang, Kompas - Dalam waktu lima tahun ke depan, sejumlah gedung tua bersejarah yang menjadi ciri khas Kota Palembang, Sumatera Selatan, akan menghilang. Pemerintah Kota Palembang berencana meratakan dengan tanah gedung-gedung lama itu demi membangun mal dan hotel.
Rencana tersebut terungkap dalam paparan mengenai pembangunan kota oleh Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Palembang, Selasa (23/11). Eddy menuturkan, sejumlah kawasan di pusat Kota Palembang perlu ditata kembali untuk menyesuaikan dengan kondisi perkembangan kota. Rencana itu antara lain meliputi penataan kawasan sekitar Benteng Kuto Besak dan Pasar Cinde.
Kawasan Benteng Kuto Besak mencakup bangunan dan lahan delapan hektar di tepian Sungai Musi. Di kawasan tersebut terdapat bangunan tua bersejarah, seperti Kantor Wali Kota Palembang yang dulunya Kantor Perusahaan Air Minum zaman Belanda, Balai Prajurit, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, yang aslinya adalah rumah Residen Belanda.
Setelah membangun ruang terbuka di depan Benteng Kuto Besak, Pemkot Palembang akan membangun hotel berbintang lima di lokasi tersebut. Berdasarkan usulan konsultan pembangunan hotel, ada sejumlah alternatif, yaitu lahan yang saat ini di atasnya berdiri Gedung Balai Prajurit yang dipakai oleh Komando Daerah Militer (Kodam) II Sriwijaya, Balai Pertemuan yang menjadi Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Palembang, dan Kantor Perbekalan Kodam II Sriwijaya.
Konsekuensinya, seluruh bangunan tua di lokasi tersebut harus dibongkar. Hal sama juga akan dilakukan terhadap Pasar Cinde di Jalan Sudirman. Pasar tradisional di pusat kota yang dibangun tahun 1958 itu akan diratakan dengan tanah. Pemkot Palembang berencana membangun pasar tradisional yang dipadukan dengan mal dan hotel.
"Ada pihak yang keberatan dengan rencana pembongkaran Pasar Cinde, dengan alasan termasuk bangunan tua dengan arsitektur khas. Akan tetapi menurut saya, Pasar Cinde itu biasa saja, tidak monumental sehingga tak perlu dipertahankan," kata Eddy.
Rencana Pemkot Palembang, yang akan mengorbankan gedung-gedung tua untuk membangun hotel dan mal tersebut, disayangkan oleh pemerhati bangunan tua di Palembang. Ketua Palembang Heritage Ari Siswanto menyesalkan paradigma keuntungan secara ekonomi yang dianut Pemkot Palembang. (dot)
Sumber: http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0411/24/daerah/1398120.htm
Posted by Sinta at 04:35 AM | Comments (1)
November 23, 2004
Announcing the "3rd International Field School for Asian Heritage
Greetings from Ahmedabad!
Hope you all are fine in health and spirits. This year India has been selected to
conduct the 3rd IFSAH and Heritage Initiatives of the Nehru Foundation for
Development will be organizing the 3rd International Field School for Asian
Heritage (IFSAH) in India starting 14th January 2005.
The Nehru Foundation for Development is a charitable trust dedicated to promoting
societal development by facilitating community participation and thereby enriching
the decision making process. One of the foundation's thrust areas is helping
societies realize their traditional, cultural heritage and initiating measures to
conserve it.
We had some very educative and inspiring moments during the 2nd IFSAH, and we hope
to carry forward the tradition. The 3rd IFSAH, would emphasise on innovative and
community based heritage management techniques toward urban conservation. An attempt
to share and analyze the conservation efforts by the Local Governments and citizens
initiatives in India as compared to those in other parts of Asia.
The field school1 Field school: is expected to commence on 14th Jan 2005 for a
duration of three weeks with participants from Asia with a intake capacity of 25
students, and would comprise of lectures on Urban Conservation field trips to
various culturally and architecturally significant places in North-West India. The
second section would compromise of a Workshop on Asian Heritage, in Ahmedabad.
With some rebudgeting and sponsoring, entire package of the field trip and the
Symposium is now expected to cost 650$ per head for individuals and 1000$ for
sponsored candidates. The IFSAH fees include inter city travel during field trips,
Lectures, local transportation, workshop materials, lodging and meals.The fees does
not cover international travel and other day to day expenses incurred by the
participants their three weeks program.We would like to give preference to
participants who have attended earlier IFSAH's, and pass on any concessions if any.
A tentative program is enclosed for your reference. We would be happy to furnish any
further details/clarifications that you may require. Any suggestions for a more
fruitful and meaningful outcome to the field school would be greatly appreciated.
We look forward to hearing from you.
With regards,
Yours sincerely,
(Debashish Nayak)
Posted by admin at 01:53 AM | Comments (0)
November 11, 2004
Penebangan Liar Makin Tak Terkendali
Kendari, Kompas - Kegiatan perambahan hutan dan penebangan liar di Sulawesi Tenggara makin meningkat dan nyaris tak terkendali. Hal itu disebabkan lemahnya upaya pengamanan hutan dan lingkungan, menyusul beralihnya semua perizinan dari pemerintah provinsi ke tingkat pemerintah kabupaten/kota.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara H Ndoloma, Rabu (10/11), menyatakan, kegiatan perambahan hutan tidak hanya berlangsung di kawasan hutan produksi di Sultra, tetapi juga di kawasan hutan konservasi seperti Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Di taman nasional itu terjadi jual-beli lahan yang selanjutnya dijadikan lahan pertanian dan permukiman.
Lokasi Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TN RAW) mencakup Kabupaten Konawe Selatan, Bombana, dan Kolaka dengan luas 105.194 hektar. TN RAW menjadi habitat berbagai jenis satwa liar, antara lain rusa dan anoa.
Menurut Ndoloma, pemerintah kabupaten/kota Sultra cenderung mengeksploitasi hutan tanpa memperhitungkan asas manfaat dan asas lestari karena mengejar setoran bagi peningkatan pendapatan asli daerah.
Seluruh perizinan, yang semula ditangani provinsi, dialihkan ke kabupaten/kota dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. UU itu telah direvisi menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
"Tetapi, yang diamandemen hanya hubungan hirarkis gubernur dan bupati/wali kota. Sedangkan hubungan perangkat provinsi dan perangkat pemerintah kabupaten belum jelas. Karena itu, tidak ada kewenangan provinsi melakukan pengawasan terhadap kabupate/kota menyangkut penerbitan berbagai izin di sektor kehutanan," papar Ndoloma.
Ia menjelaskan, umumnya pemberian izin bagi pengolahan kayu dan rotan tidak diimbangi dengan upaya pengamanan hutan dan lingkungan. Tidak heran jika tindakan penebangan liar juga makin merajalela.
Kerusakan di Karo
Dari Medan dilaporkan, degradasi lingkungan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir semakin parah. Sedikitnya 70 persen dari 86.000 hektar areal hutan lindung dan konservasi di Karo rusak akibat penebangan liar yang tidak terkendali.
"Kerusakan itu justru terjadi di hutan lindung dan konservasi yang seharusnya mendapat perlindungan khusus dari pemerintah setempat. Bagaimanapun, hutan di Karo berperan penting dalam menyediakan sumber daya air bagi masyarakat," papar aktivis lingkungan Karo, Robert Valentino Tarigan, di Medan.
Dia memaparkan, kerusakan hutan di Kabupaten Karo itu terjadi di antaranya, Dalam Ganjang (500 ha), Siosar (1.300 ha), Kacinambun (3.000 ha), Buluh Pancur-Pernankin (1.500 ha), dan Kutakendit (2.000 ha). Sedangkan hutan lindung Juhar uga telah dirambah sekitar 3.000 ha.
Akibat perambahan hutan tersebut, kata dia, hujan dengan cepat menggerus lapisan tanah subur (humus) di Kabupaten Karo. Hal tersebut menyebabkan tingkat kesuburan tanah pertanian di Karo terus menurun.
Dalam catatan Kompas, kesuburan tanah di Kabupaten Karo didukung lapisan humus yang rata-rata mencapai 25 sentimeter. Untuk mendapatkan satu sentimeter lapisan humus, membutuhkan proses selama 100 tahun. (yas/ham)
Sumber: Kompas, 11 November 2004, Rubrik Nusantara
Posted by Sinta at 06:11 AM | Comments (0)
November 09, 2004
Gedung Eks Imigrasi Terbengkalai
Jakarta, Kompas - Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merenovasi gedung bersejarah eks Kantor Imigrasi Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, semakin tidak jelas. Akibatnya, bangunan cagar budaya bekas Gedung Nederlandsch-Indische Kunstkring (Lingkaran Seni Hindia-Belanda) itu terbengkalai. Padahal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI menyediakan pos dana untuk renovasi, namun tidak terserap dengan baik.
Demikian persoalan yang mengemuka dalam Rapat Kerja Komisi E (membidangi Kesejahteraan) DPRD DKI dengan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Senin (8/11). Rapat dipimpin Ketua Komisi E Dani Anwar dan dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Setiawan Kanani.
Dalam rapat itu, anggota Komisi E Syamsidar Siregar mempertanyakan renovasi yang tertunda-tunda. "Dalam perjanjian kita akan membeli gedung itu lengkap dengan ornamennya. (Tetapi) Renovasi tidak berjalan, dan ornamen gedung tak ada," ujar Siregar.
Sejumlah anggota juga heran atas adanya perjanjian antara Pemprov DKI dengan kolektor yang bersedia menyumbangkan ornamen untuk gedung itu. Sebab perjanjian itu tanpa persetujuan atau bahkan tanpa sepengetahuan DPRD. Mereka juga mempertanyakan kunjungan eksekutif ke Amsterdam untuk mempelajari dan mencari ornamen yang terkait dengan gedung yang dikategorikan sebagai cagar budaya klasifikasi A.
Menanggapi berbagai pertanyaan itu, Kepala Subdinas Pengawasan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Chandrian Attahiyyat mengatakan, tertunda-tundanya renovasi karena pengumpul barang mulai ragu-ragu memberikan ornamen yang pernah dijanjikan kepada DKI. Hal lain, berdasarkan pertimbangan tim Sidang Pemugaran yang terdiri dari arkeolog, arsitek, dan planolog meminta agar renovasi ditunda dulu. (pin)
Sumber: Kompas 09 November 2004, rubrik Nusantara
Posted by Sinta at 06:32 AM | Comments (0)
November 08, 2004
Palembang Perlu Melindungi Bangunan Tua
Palembang, Kompas - Cepatnya pertumbuhan ekonomi dan aktivitas komersial perkotaan membuat Kota Palembang perlu melindungi bangunan-bangunan tua dari perusakan guna membangun pertokoan baru. Menurut Ketua Palembang Heritage Ari Siswanto, Sabtu (6/11), sudah banyak bangunan tua di kawasan-kawasan strategis mengalami penghancuran karena Palembang tidak memiliki peraturan daerah yang melindungi peninggalan- peninggalan sejarah itu.
Di sisi lain, pemerintah kota dan pemodal swasta dinilai tidak peduli pada pelestarian bangunan tua karena dianggap kumuh dan hanya memiliki kontribusi ekonomis yang kecil. Kedua kondisi itu membuat keberadaan bangunan-bangunan tua menjadi terancam, baik oleh perobohan maupun oleh pelapukan akibat tidak dirawat.
Secara umum, bangunan tua di Palembang terbagi atas bangunan peninggalan Belanda dan bangunan adat masa lalu. Peninggalan adat tersebar di tepi Ulu Sungai Musi, sedangkan peninggalan Belanda tersebar di kawasan tepi Ilir dan jalan-jalan utama Palembang.
Menurut Ari, perobohan bangunan tua guna membangun pertokoan pernah akan terjadi di Gedung Kopi, samping Kantor Wali Kota Palembang. Namun, karena ditentang masyarakat dan tak ada izin dari militer sebagai pemilik, perobohan batal dilaksanakan. Walaupun tak jadi dirobohkan, gedung itu tak dimanfaatkan pemiliknya.
Bangunan tua yang terancam perobohan, menurut Ari, adalah Pasar Cinde, Gedung Sekanak, dan Balai Prajurit. Pasar Cinde yang memiliki keunikan pada struktur kolom cendawan sedang dilirik investor untuk dijadikan pertokoan modern. Sedangkan Gedung Sekanak, tempat pertemuan dan dansa zaman Belanda, dan Balai Prajurit akan dirobohkan dan diubah menjadi hotel. (eca)
Posted by Sinta at 07:27 AM | Comments (0)
November 05, 2004
Siapakah Dia, "Homo Floresiensis"?
Oleh: Harry Widianto
PENGUMUMAN penemuan Homo floresiensis pekan lalu di Sydney, Australia, telah ditanggapi dengan gegap gempita oleh dunia pengetahuan. Sisa-sisa manusia yang ditemukan di sebuah goa permukiman prasejarah, Liang Bua, Flores, telah memunculkan kisah aktual tentang evolusi manusia dari kurun 18.000-30.000 tahun silam, dan diidentifikasi sebagai spesies baru dalam garis evolusi manusia. Inilah salah satu ironi terbesar dalam sejarah paleoantropologi karena temuan yang menakjubkan dan revolusioner tersebut-yang telah memberikan sinar terang bagi asal-usul manusia-telah datang dari suatu peripery "Dunia Lama": Flores.
LALU, apa keistimewaan temuan tersebut bagi kisah evolusi manusia? Mengapa hadirnya Homo floresiensis mampu mengentak dunia pengetahuan? Siapakah dia, dan pesan apa yang ingin dia sampaikan bagi dunia pengetahuan?
Evolusi manusia
Evolusi manusia merupakan salah satu proses sangat penting yang tidak dapat dilepaskan dari konteks historis Pulau Jawa. Sebagai bagian dari "Dunia Lama", Pulau Jawa telah demikian terkenal di mata dunia akibat berbagai penemuan penting di bidang paleoantropologi. Sisa- sisa manusia purba Pithecanthropus erectus yang ditemukan oleh Eugene Dubois di akhir abad ke-19 pada endapan purba Bengawan Solo di Trinil, Jawa Timur, merupakan temuan spektakuler yang menggemparkan dunia saat itu karena dianggap sebagai penemuan missing-link, bagian dari reaksi ilmiah atas konsep evolusi Charles R Darwin.
Setahun sebelum penemuan Situs Trinil tahun 1891, telah pula ditemukan-juga oleh Dubois-fosil Pithecanthropus lainnya dari endapan Plestosen Tengah di Kedungbrubus, tidak jauh dari Trinil. Bahkan, pada tahun-tahun setelah itu, semenjak tahun 1930-an, distribusi situs manusia purba di Pulau Jawa tidak lagi terbendung eksistensinya. Situs-situs yang terletak di Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut berada di empat kondisi fisiografis, yaitu cekungan Solo (Sangiran), jalur Pegunungan Kendeng (Kedungbrubus, Trinil, dan Perning-Mojokerto), aluvial Bengawan Solo (Ngandong, Sambungmacan, dan Ngawi), maupun endapan vulkanik Gunung Muria (Patiayam).
Penemuan-penemuan itu dan perkembangan dunia ilmiah pun kemudian mengantarkan secara mantap Pithecanthropus erectus sebagai bagian dari evolusi manusia, yang kemudian diresmikan sebagai salah satu fosil dalam genus Homo dan dinamakan Homo erectus. Sekitar 100 individu Homo erectus ditemukan di berbagai situs kuarter di Indonesia, yang dalam kajian evolutifnya menunjukkan adanya tiga tingkatan evolusi manusia selama lebih dari satu juta tahun, antara 1,5 dan 0,1 juta tahun lalu.
Tingkatan tersebut adalah Homo erectus arkaik, paling purba (1,5-1,0 juta tahun lalu), Homo erectus tipik (0,9-0,4 juta tahun silam), dan Homo erectus progresif. Tingkatan yang disebut terakhir ini paling maju, sebagai Homo erectus terakhir di Indonesia (0,3-0,1 juta tahun lalu).
Segi-segi evolusi fisik menunjukkan bahwa Homo erectus merupakan spesies yang sangat penting bagi pemahaman tentang evolusi manusia karena dia memberikan gambaran evolutif sebelum mencapai bentuk yang sekarang: Homo sapiens, manusia bijak, modern. Spesies tersebut terakhir, yang banyak ditemukan di endapan-endapan goa prasejarah di Gunung Sewu, berasal dari awal Kala Holosen.
Jumlah individu penghuni goa prasejarah tersebut telah ditemukan tidak kurang dari 20 individu, yang berasal dari Goa Braholo dan Song Tritis (Rongkop, Gunungkidul), dan Song Keplek, Song Terus, maupun Song Gupuh (Punung, Pacitan), dengan usia paling tua-untuk sementara-adalah 13.000 tahun. Manusia Wajak atau Homo wadjakensis, yang awalnya dianggap sebagai sapiens pertama di Indonesia, berasal dari kurun 11.000 tahun lalu, dan merupakan bagian dari perkembangan akhir Homo sapiens fosil.
Melihat spesies manusia dan periodisasi tersebut, maka telah terjadi kesenjangan evolutif selama paling tidak 100.000 tahun, sejak Homo erectus terakhir dan Homo sapiens tertua di Pulau Jawa.
Masalahnya, aspek-aspek morfologi fisik antarkedua spesies tersebut-terutama pada struktur tengkoraknya sebagai bagian tubuh manusia yang paling signifikan mengalami perubahan dalam proses evolusi- amat sangat berbeda. Homo erectus menunjukkan karakter tengkorak yang sangat arkais dibandingkan dengan Homo sapiens; tengkorak memanjang dan rendah, dahi miring ke belakang, tulang kening sangat menonjol, muka lebar tetapi pendek, tulang tengkorak tebal, alat-alat mastikasi (rahang maupun gigi) sangat kuat, muka menjorok ke depan (prognath), dan banyak lagi karakter arkais lainnya.
Dua masalah telah mewarnai situasi ini, yaitu proses evolusi fisik yang berubah drastis dari erectus ke sapiens hanya dalam waktu kira-kira 100.000 tahun terakhir, dan kesenjangan data akan fosil manusia selama periode tersebut, yang dapat menjembatani perubahan fisik dari seorang erectus ke seorang sapiens, sejak era Homo erectus terakhir (Ngandong, Sambungmacan, dan Ngawi) dan Homo sapiens pertama di Pulau Jawa (Wadjak, Goa Braholo, Song Keplek, Song Terus). Artinya, diperlukan fosil penghubung, yang sekaligus mempunyai ciri-ciri erectus dan sapiens dalam satu individu yang sama.
Dalam pandangan penulis, persoalan transisi evolutif dari Homo erectus ke Homo sapiens inilah yang selama beberapa dekade ini telah menjadi persoalan yang paling penting dalam dunia paleoantropologi Indonesia: di manakah fosil transisi tersebut akan ditemukan?
Signifikasi temuan
Bumi Flores pun agaknya merupakan jawaban yang sangat menjanjikan. Gegap gempitanya penemuan Homo floresiensis-menurut nama yang diberikan dalam pengumuman temuan tersebut-mungkin merupakan salah satu penerang dalam proses evolutif dari Homo erectus ke Homo sapiens di Indonesia. Pasalnya, fosil manusia tersebut mempunyai dua arti penting bagi evolusi manusia.
Pertama, dia menunjukkan ciri-ciri erectus dan sapiens dalam individu yang sama, dan kedua, masa hidupnya berasal dari kurun 18.000-30.000 tahun yang lalu. Ini berarti merupakan masa setelah berakhirnya era Homo erectus di Indonesia, dan sebelum maraknya periode kehidupan Homo sapiens di kepulauan ini, setidaknya berdasarkan data hingga saat ini.
Ditafsirkan tingginya berukuran sekitar satu meter, Homo floresiensis mempunyai tengkorak yang kecil, dengan kapasitas tengkorak 380 cc (bandingkan dengan manusia modern, 1.200 cc). Meski tengkoraknya cukup kecil, dia telah mengalami perkembangan sempurna, yang berdasarkan erupsinya gigi geraham ketiga, menunjukkan individu dewasa yang telah melampaui usia 18 tahun. Apabila dikaitkan dengan masa hidupnya yang berasal antara 18.000 dan 30.000 tahun yang lalu, hampir pasti fosil ini harus dipandang sebagai bagian dari spesies Homo sapiens, sama seperti saudara- saudara mereka yang hidup di goa-goa di Niah (Serawak) ataupun Goa Tabon (Filipina).
Hal yang sangat menarik dari fosil ini, selain ukurannya yang kecil dan hampir pasti merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan insuler mereka, adalah masih dikonservasinya beberapa karakter arkais yang lazim ditemukan di kalangan Homo erectus. Atap tengkoraknya mempunyai morfologi yang memanjang ke belakang, dengan lebar maksimal terletak pada bagian temporal (sekitar telinga). Demikian pula dahinya terlihat sangat datar, dengan penonjolan signifikan pada tulang keningnya.
Lebih ke bawah, muka fosil ini tampak menjorok ke depan, dengan alat-alat kunyah (rahang dan gigi) yang cukup kekar dibandingkan dengan keseluruhan tengkorak. Terlebih lagi, tidak terdapat dagu pada rahang bawah, dan pada bagian depan rahang-di bagian dalam-terdapat planum alveolaris yang cukup berkembang, dan bagian ramus mandibula yang bersambungan dengan dasar tengkorak, terlihat condong ke belakang. Beberapa karakter pada struktur tengkorak di atas yang mengingatkan pada karakter Homo erectus hampir- hampir tidak dijumpai lagi di kalangan fosil-fosil Homo sapiens.
Di sinilah arti penting fosil dari Liang Bua Flores ini: satu individu yang mempunyai karakter dari dua spesies Homo yang terakhir, Homo erectus dan Homo sapiens. Lalu, posisinya pun lebih gampang direkonstruksi. Ia merupakan fosil transisi evolutif dari spesies erectus yang hidup pada 1,5-0,1 juta tahun lalu di Jawa, dan Homo sapiens, fosil yang selama ini baru diinventaris paling tua dari 13.000 tahun lalu di jajaran Gunung Sewu.
Jadi, penemuan ini sangat jamak kalau menjadi penemuan yang sangat penting karena dia mampu menjawab persoalan pokok dunia paleoantropologi Indonesia saat ini tentang penghubung antara Homo erectus terakhir dan Homo sapiens pertama di kepulauan Nusantara ini. Salah satu jawabannya adalah Homo floresiensis.
Tempat penemuan di Pulau Flores telah memberikan arti tersendiri bahwa lingkungan insuler di daerah Nusa Tenggara Barat dan Timur adalah lokasi yang tidak kalah penting dibandingkan dengan Pulau Jawa di sebelah baratnya. Tak jarang dilaporkan temuan-temuan penting dari kawasan ini, seperti artefak berusia 900.000 tahun, dan juga fosil Stegodon sp (gajah purba) kerdil. Sekarang, dilengkapi dengan manusia kerdilnya pula.
Oleh karena itu, Liang Bua sangat mungkin merupakan salah satu jalur penting dari migrasi manusia dari barat ke timur selama Kala Plestosen, dan merupakan salah satu tempat penting dari penanggalan baju Homo erectus untuk digantikan dengan baju Homo sapiens, sekitar 18.000-30.000 tahun yang silam. Ada baiknya posisi temuan ini bukan dianggap sebagai sebuah penemuan spesies baru, karena usia yang dimilikinya berada dalam wilayah evolusi Homo sapiens, tetapi lebih tepat dianggap sebagai salah satu subspesies baru dari Homo sapiens sehingga namanya adalah Homo sapiens floresiensis.
Masih banyak hal yang harus dikonfirmasi secara ilmiah dari penemuan ini. Masih banyak informasi yang harus digali dan dicermati lagi karena toh penelitian ini belum berakhir….
Harry Widianto Peneliti pada Balai Arkeologi Yogyakarta
Sumber: Kompas, 5 November 2004
Posted by Sinta at 04:21 AM | Comments (0)
Fosil Manusia Flores Itu Diumumkan di Australia
Oleh: Etty Indriati
INDONESIA termasuk dalam peta paleoantropologi dunia dan situs-situs prasejarahnya amat kaya dengan berbagai variasi biologis manusia dari 1,6 juta tahun lalu sampai ribuan tahun lalu. Alangkah baiknya apabila ada perhatian pemerintah dalam hal dana penelitian dan pendidikan paleoantropologi bagi institusi yang memiliki ahli dalam bidang ini. Minimnya dana pendidikan membuat dosen bioarkeologi dan paleoantropologi hampir-hampir bekerja sukarela untuk mewariskan ilmunya kepada para mahasiswa. Minimnya dana pendidikan diperburuk oleh ketiadaan dana penelitian sehingga mau tidak mau peneliti Indonesia terpaksa bekerja sama dengan pihak luar negeri.
KERJA sama yang membuahkan temuan manusia Flores menimbulkan kegusaran karena diumumkan di Australia tanpa kehadiran peneliti Indonesia. Bahkan, penelitian pun belum selesai. Temuan manusia Flores menjadi sangat penting karena didapat dari penggalian sistematis sehingga konteks temuan diketahui: lapisan tanah, fosil fauna, dan kemungkinan besar in situ-lokasi mati sama dengan lokasi temuan.
Yang menyedihkan, penggalian di Goa Liang Bua ini telah dilakukan peneliti-peneliti Indonesia secara sporadis selama puluhan tahun, tetapi yang menuai ketenaran dan pengakuan adalah Mike Morwood dan Peter Brown dari Australia. Semua media merujuk nama mereka (antara lain Kompas, Jawa Pos, the International Herald Tribune, New York Times, Jakarta Post, USA Today, dan The Asian Wall Street Journal). Ini terjadi karena hanya Morwood dan Brown-lah yang mengumumkan itu dalam konferensi pers di Sydney, Australia.
Bisa dimengerti kalau hal ini membuat Profesor Soejono sebagai ketua tim peneliti Indonesia dan yang telah lama menggali di Liang Bua sejak tahun 1970-an gusar (Kompas tanggal 29 dan 30 Oktober, 2004).
Pengumuman resmi temuan fosil manusia Flores di Australia tanpa kehadiran peneliti Indonesia ini membuat saya bertanya-tanya, apakah Morwood dan Brown mencantumkan peneliti-peneliti Indonesia yang menemukan manusia Flores dalam jurnal Nature?
Nama saja tak cukup
Terdapat dua tulisan di Nature terbitan 29 Oktober 2004 mengenai manusia Flores ini. Pertama, dalam Letters to Nature berjudul "Archaeology and age of a new hominin from Flores in eastern Indonesia" (MJ Morwood, RP Soejono, RG Roberts, T Sutikna, CSM Turney, KE Westaway, WJ Rink, JX Zhao, GD van den Berg, Rokus Awe Due, DR Hobbs, MW Moore, MI Bird, LK Fifield).
Dengan kata lain, penulis pertama adalah Morwood, dan komposisi pengarang terdiri dari 3 orang Indonesia dan 11 orang non-Indonesia.
Tulisan yang kedua di Nature berjudul "A new small-bodied hominin from the Late Pleistocene of Flores, Indonesia", ditulis oleh P Brown, T Sutikna, MJ Morwood, RP Soejono, Jatmiko, E Wahyu Saptomo, dan Rokus Awe Due.
Jadi, Morwood dan Brown setidaknya telah memasukkan nama-nama peneliti Indonesia yang bekerja keras melakukan penggalian di Goa Liang Bua, Flores, dalam artikel di Nature. Namun, cukupkah itu?
Tidak! Pertama, karena dalam kaidah ilmiah, apabila jumlah pengarang lebih dari dua orang, sitasinya menjadi pengarang pertama dan kawan-kawan. Dengan demikian, dua artikel di Nature pengumuman pertama manusia Flores sitasinya menjadi Morwood et al, dan Brown et al.
Kedua, karena Morwood dan Brown mengumumkan hasil temuan manusia Flores ini di Australia tanpa kehadiran peneliti Indonesia yang telah melalui proses panjang mendapatkan temuan ini. Gara-gara konferensi pers tersebut, semua media mengangkat nama Morwood dan Brown, bukan peneliti Indonesia. Seharusnya, konferensi pers diadakan di Indonesia tempat penemuan digali, dan bersama-sama peneliti Indonesia yang bekerja dalam penggalian di Liang Bua.
Meskipun dalam kerja sama Pusat Arkeologi Nasional dengan Morwood pihak Australia memberikan bantuan dana penggalian di tahun 2003, bukan berarti hak pertama kali mengumumkan dan meneliti materi ilmiah ada di penyandang dana. Penelitian kerja sama yang menghasilkan fosil temuan dalam publikasi setidaknya harus melibatkan kedua pihak bergantian sebagai pengarang utama.
Suatu temuan bisa dibuat beberapa tulisan sekaligus, di sini satu tulisan bisa pengarang utamanya peneliti dari mana fosil digali/berasal, tulisan lain pemberi dana sebagai pengarang utama. Pengumuman resmi fosil temuan sebaiknya dilakukan bersama tim yang bekerja sama.
Contoh kerja sama
Dua contoh penelitian kerja sama di dunia paleoantropologis yang tetap menghargai peneliti negara di mana fosil ditemukan adalah di Georgia (dulu bagian dari Uni Soviet) Eropa, dan di Etiopia, Afrika. Temuan fosil rahang dan tengkorak Homo erectus Dmanisi D211, D2280, dan D2282 dipublikasi pertama kali oleh Gabunia et al, di Science Mei 2000.
Leo Gabunia adalah ketua tim peneliti Dmanisi dari Georgia, kini telah tiada (1920-2001), dan penggantinya adalah David Lordkipanidze. Gabunia menjadi first author dalam Science ketika temuan fosil Dmanisi pertama kali diumumkan, meskipun penelitian ini mendapat bantuan dana dan kerja sama dengan peneliti Jerman.
Pada Januari 2001 saya diundang meneliti Homo erectus dari Dmanisi ini dan boleh memublikasikan sebagai pengarang utama. Temuan fosil Homo erectus dari Bouri, Etiopia, pertama kali diumumkan di Letters to Nature edisi Maret 2002, penulis pertamanya adalah Berhane Asfaw, peneliti Etiopia dari Rift Valley Research Service, Etiopia, meskipun pendanaannya dari Amerika.
Mampukah kita, peneliti Indonesia, memiliki bargaining position, kejelian memilih partner kerja sama yang punya etika, dan melindungi diri dari perilaku tidak etis dari peneliti luar negeri?
Jawabannya ada di tangan kita sendiri. Pada tahun 1978 ketika Profesor Leslie Freeman dari Universitas Chicago Amerika ke Yogyakarta dan meneliti bersama Profesor Jacob dan Profesor Soejono mengenai alat batu di Jawa, hasilnya adalah publikasi di majalah Science dengan komposisi pengarang: T Jacob, RP Soejono, LG Freeman, dan FH Brown pada artikel berjudul "Stone tools from Mid-Pleistocene Sediments in Java". Sitasi dalam karya ilmiah menjadi Jacob et al, 1978. Bukan Freeman et al, 1978.
Maka, agar pengalaman pahit pengumuman manusia Flores tak terulang lagi, peneliti Indonesia harus saling mendukung untuk menjaga intellectual dignity. Bila ada ahlinya di Indonesia, janganlah akses ini dibuka sehingga begitu mudah diambil orang luar.
Bila bekerja sama dengan asing, perlu dibuat kesepakatan tertulis dari awal: bila ada temuan fosil, hak publikasi dan pengumuman resmi harus memprioritaskan tim peneliti negara dari mana fosil digali. Fosil sebagai kekayaan materi ilmiah dan budaya untuk merekonstruksi peradaban manusia harus disimpan dengan baik dan bertanggung jawab.
Akses kepada peneliti luar harus benar-benar dipikirkan akan untuk apa dan apakah akan merugikan atau tidak.
Etty Indriati PhD Dosen dan Peneliti di Laboratorium Bio-paleoantropologi FK UGM Yogyakarta
Sumber: Kompas, 5 November 2004
Posted by Sinta at 04:14 AM | Comments (0)
November 04, 2004
Tidak Etis Umumkan Temuan Liang Bua Tanpa Libatkan Indonesia
Jakarta, Kompas - Tidak etis hasil penelitian manusia kerdil dari Liang Bua alias Homo floresiensis diumumkan oleh peneliti Australia tanpa keterlibatan dan kehadiran peneliti dari Indonesia. Kerja sama penelitian itu seharusnya menguntungkan dan tidak sekadar memperlakukan Indonesia dengan kekayaan tinggalan budayanya sebagai lahan garapan.
Demikian kegusaran arkeolog Mundardjito, Ingrid HE Pojoh, dan Edi Sedyawati ketika dihubungi secara terpisah, Selasa (2/11). Sebelumnya, kelompok peneliti Australia mengumumkan dalam sebuah jumpa pers di Sydney tentang temuan di Liang Bua, Flores, yang merupakan kerja sama Australia dengan Indonesia.
Sejumlah koran besar, seperti Herald Tribune, New York Times, USA Today, The Asian Wall Street Journal, dan surat kabar nasional memuat berita temuan itu. Arkeolog RP Soejono yang membidani kerja sama dua negara dalam penelitian bahkan mengeluh karena tiba-tiba saja Australia mengumumkan penelitian, yang menurutnya belum sepenuhnya tuntas itu, tanpa kehadiran seorang pun peneliti Indonesia.
Mundarjito mengungkapkan, kerja sama seharusnya diatur agar menguntungkan kedua belah pihak. Dengan caranya tersebut, Australia terkesan tidak etis. Liang Bua merupakan situs cagar budaya milik negara dan mendapat perlindungan.
"Seharusnya negara tidak dirugikan, termasuk dalam hal publisitas. Bahkan, ketua tim peneliti semestinya dari negara tempat obyek penelitian. Selain itu, setiap ada wawancara, peneliti dari Indonesia yang berbicara," katanya.
Kasus Liang Bua menggambarkan betapa rendahnya posisi tawar peneliti di negeri sendiri. Hal itu antara lain dikarenakan semakin sedikitnya kepakaran bidang arkeologi. Dengan adanya kebijakan zero growth, tenaga doktor yang memadai menipis karena banyak yang pensiun. Selain itu, dana penelitian yang disediakan pemerintah pun sangat minim sehingga bantuan dari luar negeri dirasa penting.
Mundardjito mengingatkan, benda-benda cagar budaya itu bagian dari jati diri bangsa, sumber budaya nasional. "Jangan sampai orang belajar kekayaan bangsa kita justru dari orang asing atau negeri lain," katanya.
Harus sejajar
Pendapat serupa dilontarkan Ketua Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia Ingrid HE Pojoh. "Saya tidak tahu bagaimana perjanjian di antara kedua belah pihak sehingga Australia dapat mengumumkan tanpa didampingi peneliti Indonesia. Kalau itu kerja sama, setiap langkah seharusnya dengan sepengetahuan kedua belah pihak serta dilakukan bersama," katanya.
Bisa jadi, dari segi pembiayaan Australia berperan besar, tetapi dia mempertanyakan keetisan peneliti Australia bertindak demikian. Sebagai pemilik aset budaya itu, kejadian tersebut menyinggung kebanggaan nasional kita sebagai orang Indonesia.
Secara terpisah, arkeolog Edi Sedyawati mengatakan, dalam setiap kerja sama, kedudukan kedua pihak harus sejajar mulai dari perencanaan hingga publikasi.
"Ini harus dimengerti oleh para pejabat terkait dan peneliti karena pihak luar negeri pasti akan mencari celah-celah. Oleh karena itu, perlu kekompakan para peneliti," katanya.
Dia juga mengingatkan agar hasil galian yang diteliti sebisa mungkin tidak lari keluar negeri. Seandainya peralatan tidak mencukupi dan terpaksa dikirim ke laboratorium di luar negeri, harus ada perjanjian yang tegas dan jelas tentang pengembaliannya. (INE)
Sumber: Kompas, 3 November 2004, hlm 10, Rubrik Humaniora
Posted by Sinta at 04:55 AM | Comments (0)
Sejarah Kita Berawal dari Kutai
PERIODE awal sejarah ditetapkan berdasarkan sumber data tekstual paling tua. Bagi sejarah Indonesia, sejumlah prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman, Kutai Kartanegara, merupakan sumber data tekstual tertua yang pernah ditemukan. Kampung Muara Kaman terletak di pertemuan Sungai Mahakam, dengan salah satu anak sungainya, yakni Sungai Kedang Rantau.
PERJALANAN menuju kampung tersebut bisa ditempuh dengan kendaraan darat maupun dengan kapal menyusuri Sungai Mahakam, mulai dari Samarinda yang berjarak sekitar 110 kilometer ke arah hulu Mahakam.
Meski tidak berangka tahun, secara paleografis, aksara Pallawa dalam prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman itu diperkirakan berasal dari permulaan abad V atau sekitar tahun 400 Masehi.
Artinya, di Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang terletak di pedalaman Sungai Mahakam itu merupakan tempat bermulanya zaman sejarah bagi negara Indonesia.
Dari berbagai temuan di Kalimantan Timur, ada berbagai komunitas budaya dengan peradaban yang cukup tinggi. Bahkan, komunitas budaya ini sebenarnya sudah muncul di kawasan ini sejak ribuan tahun lalu.
Misalnya yang sangat menarik adalah temuan goa-goa di Kalimantan Timur. Goa yang menjadi tempat tinggal manusia masa lalu ini dilengkapi dengan hiasan-hiasan atau lukisan purbakala pada dindingnya.
Kekayaan masa lalu ini ditemukan Tim Ekspedisi Kalimantanthrope dalam penjelajahannya yang berakhir 20 Juni 2001. Mereka menemukan lukisan pada dinding-dinding goa di kawasan Gunung Marang, sekitar 400 kilometer utara Balikpapan, beserta pecahan-pecahan perkakas tembikar dan sejumlah makam.
Temuan-temuan itu diduga berasal dari masa prasejarah dan diperkirakan telah berusia 10.000 tahun. Sebuah tradisi kuno yang sangat menarik, yang mungkin sama sekali tidak dilanjutkan pada negara yang saat ini ada, sekalipun sudah melewati perjalanan sejarah yang sangat panjang.
BUKTI-bukti tersebut setidaknya menunjukkan bahwa pada masa lalunya, Kalimantan "lebih maju" dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Penggalian di lokasi situs sejarah Kerajaan Kutai di Muara Kaman juga menemukan berbagai artefak, seperti sisa-sisa atau reruntuhan candi berupa peripih, manik-manik, gerabah, patung perunggu, dan keramik yang sangat indah.
Hal itu membuktikan nenek moyang orang Kutai pada masanya sudah berperadaban sangat maju. Peradaban Kutai masa lalu inilah yang menjadi tonggak awal zaman sejarah di Indonesia.
Dalam salah satu prasasti Yupa disebutkan, pada masa Kerajaan Kutai Martapura ada persembahan emas yang sangat banyak, juga persembahan sapi yang mencapai 20.000 ekor jumlahnya.
Bisa jadi hal tersebut juga menunjukkan betapa makmurnya masyarakat Kutai waktu itu. Ternyata, kondisi masa lalu itu berbanding terbalik dengan masa sekarang.
Kalimantan Timur, khususnya di Kutai Kartanegara, sekarang ini sangat jauh tertinggal, khususnya jika dibandingkan dengan daerah lain, sebut saja daerah di Pulau Jawa. Paling mudah dilihat adalah bidang yang menyangkut infrastruktur transportasi. Ini terbukti dengan masih banyaknya daerah yang sulit dijangkau transportasi.
Demikian pula dengan angka kemiskinan masih sangat tinggi. Seharusnya dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, warga Kutai Kartanegara bisa makmur sejahtera. Tidak seperti sekarang, dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APDB) sebesar Rp 2,9 triliun, angka kemiskinan masih begitu tinggi.
KABUPATEN Kutai Kartanegara hanya berpenduduk sekitar 460.000 jiwa. Namun, dengan APBD sebesar itu, kabupaten tersebut ternyata memiliki 54.836 jiwa yang masih miskin atau sekitar 12 persen dari jumlah penduduknya. Bahkan, APBD tersebut lebih besar dibandingkan dengan APBD Provinsi Jawa Tengah yang sebesar Rp 2 triliun, tetapi jumlah penduduknya 31 juta orang.
Jika dibandingkan dengan angka kemiskinan kabupaten atau kota lain di Kalimantan Timur, Kutai Kartanegara merupakan penyumbang terbesar penduduk miskin atau sekitar 19 persen dari total penduduk miskin di Kalimantan Timur yang mencapai sekitar 290.000 orang.
Tidak ada salahnya pejabat Kutai Kartanegara belajar dari nenek moyang mereka, warga Kutai Martapura abad V yang lalu. Hal itu bisa diawali dengan mengkaji peninggalan budaya nenek moyang mereka yang mencapai kejayaan pada masa Raja Mulawarman. Raja Mulawarman digambarkan dalam prasasti Yupa yang didirikan para brahmana itu sebagai raja yang mulia dan berperadaban baik.
Tidak seperti sekarang, contohnya dalam eksploitasi kekayaan alam terlihat dilakukan secara semena-mena, bahkan terkesan mengorbankan rakyat sendiri. Seperti yang dialami warga Desa Kertabuana, Kecamatan Tenggarong Seberang, yang kehilangan sawah mereka akibat penambangan batu bara. Bahkan, bendungan irigasi pun kalau perlu dibatalkan pembangunannya untuk tambang batu bara, seperti bendungan di Separi, Kecamatan Tenggarong Seberang.
Penggalian batu bara secara terbuka itu menyisakan lubang- lubang dan kolam raksasa, menimbulkan kerusakan parah yang bisa menimbulkan bencana lingkungan. Sejarah berawal di Kutai, semoga tidak berakhir di Kutai. (PRASETYO EKO PRIHANANTO)
Sumber: Kompas, Rabu 3 November 2004, hlm 31 Rubrik Nusantara
Posted by Sinta at 04:50 AM | Comments (0)
"SOS" Situs Kerajaan Tertua di Indonesia
MUARA Kaman, kampung yang terletak sekitar 110 kilometer ke arah hulu Sungai Mahakam dari Kota Samarinda, mempunyai arti sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Tonggak penanda awal sejarah negara Indonesia ini memiliki data tekstual tertua, yakni dibuat pada awal abad V.
Bahkan, berbagai temuan artefak budaya purbakala hingga sekarang masih sering ditemukan di tempat tersebut. Penelitian terakhir yang dilakukan berhasil menemukan sejumlah artefak yang cukup penting untuk merekonstruksi sejarah Kerajaan Kutai, kerajaan tertua di Indonesia.
Para peneliti dari Universitas Negeri Malang bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Kutai Kartanegara merekomendasikan agar tempat tersebut segera dilindungi dengan peraturan daerah dan menjadikannya sebagai kawasan taman purbakala nasional. Hal tersebut didasari berbagai temuan penelitian yang dilakukan dari 12-31 September 2004 itu sangat penting artinya. Baik untuk ilmu pengetahuan maupun pengembangan wisata budaya dan sejarah.
Kepala Balai Arkeologi Banjarmasin Gunadi yang juga ikut dalam penelitian tersebut mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara segera melindungi situs-situs sejarah yang terdapat di Muara Kaman. "Situs tersebut sangat penting artinya bagi ilmu pengetahuan, juga untuk pengembangan wisata sejarah bagi Kutai Kartanegara," katanya.
Salah seorang peneliti dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengatakan, berbagai temuan yang ada di situs Muara Kaman tersebut sangat penting, tidak hanya bagi sejarah lokal, tetapi juga nasional. Menurut dia, telaah sejarah Kutai yang dilakukan selama ini masih terasa kurang dan lebih banyak hanya berdasar analisis tekstual berupa prasasti Yupa dan naskah Salasilah Kutai.
Analisis artefaktual masih sangat kurang dan belum bisa mengungkap "periode gelap" sejarah Kutai yang cukup panjang. Hingga saat ini, menurut Dwi Cahyono, terjadi ketidakjelasan sejarah sejak Kerajaan Kutai Martapura, kerajaan Hindu yang pernah dipimpin raja terkenal Mulawarman pada abad V, hingga kemunculan kerajaan Islam pada abad XIII.
"Masa itu disebut periode gelap karena hingga sekarang tidak ada data tekstual atau artefak yang bisa mengungkapkan apa yang terjadi pada masa tersebut," kata Dwi Cahyono. Menurut dia, bukan tidak mungkin dari eksplorasi sumber data artefak yang cukup melimpah itu, kesinambungan sejarah Kutai bisa direkonstruksi kembali.
TIDAK hanya penting bagi ilmu pengetahuan, situs Muara Kaman juga dinilai sangat potensial untuk pengembangan pariwisata bagi Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun, berbagai situs Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman itu terancam rusak jika tidak segera dilindungi atau mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah setempat.
"Penelitian sekaligus penyelamatan situs-situs tersebut harus segera dilakukan, misalnya dengan membuat peraturan daerah tentang cagar budaya. Selain itu juga perlu dilakukan dokumentasi dan inventarisasi atau tempat penyimpanan barang yang ditemukan, berupa museum site," kata Dwi Cahyono.
Pengalaman membuktikan, tanpa adanya perhatian di kawasan yang kaya peninggalan sejarah purbakala, terjadi apa yang disebut oleh ahli sejarah sebagai "petaka purbakala". Sekitar tahun 1991 hingga 1995 terjadi banyak penggalian liar di situs-situs sejarah tersebut, yang membuat ribuan peninggalan purbakala tersebut rusak dan hilang.
"Bahkan, di salah satu tempat yang banyak menyimpan benda bersejarah, seperti di kawasan Benua Lawas, masih terdapat lubang- lubang bekas galian liar," ungkap Dwi Cahyono. Untuk kawasan situs Tajung Gelumbang di Benua Lawas sudah dalam status "SOS" dan perlu mendapat penanganan segera.
Wakil Bupati Kutai Kartanegara Samsuri Aspar mengatakan, tempat-tempat bersejarah di Muara Kaman tersebut perlu dilindungi. "Kawasan itu memang bisa dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah untuk menarik wisatawan," katanya.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Kartanegara Bachtiar Effendi pun sependapat. Kenyataannya, perhatian pemerintah daerah setempat ternyata terasa sangat kurang. Meskipun dianggap penting, kondisi situs yang ada di Muara Kaman masih terlihat kurang mendapat perhatian.
Sekarang ini kondisi berbagai situs di Muara Kaman, seperti di Benua Lawas atau Bukit Brubus, memprihatinkan. Berbagai situs seperti lesung batu, nisan, dan berbagai peninggalan lain itu kurang terawat.
Pemantauan Kompas di tempat tersebut, situs yang potensial dikembangkan menjadi wisata sejarah itu tampak terbengkalai. Semak belukar dan rumput liar dibiarkan tumbuh lebat di sekitar situs-situs tersebut.
Sampah plastik dibiarkan menumpuk begitu saja di sekitar situs. Bahkan, sewaktu-waktu situs itu bisa rusak terbakar jika kebakaran yang terjadi di semak-semak kering di sekitar situs meluas.
Karnain (50), warga setempat yang secara sukarela menjaga tempat itu, mengatakan tempat itu memang kurang terawat. "Memang sayang dibiarkan kurang terawat, hanya sejumlah warga yang kadang berdoa di tempat ini kadang membersihkan. Saya sendiri secara sukarela menjaga agar situs ini tidak dirusak atau dicuri orang," katanya.
Kenyataan tersebut sungguh berbeda dengan niat Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk mengembangkan wisata sejarah dari peninggalan kerajaan-kerajaan di Kutai. Meskipun untuk niat ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara, yang ditandai dengan penabalan sultan baru pada tahun 2001, hingga memunculkan pro dan kontra tentang menghidupkan kembali semangat "feodalisme".
Jika mau sungguh-sungguh mengembangkan wisata sejarah, tentunya tidak bisa dilupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Kutai Martapura dari abad V. Sekarang ini sisa-sisa sejarah itu dalam kondisi memprihatinkan dan sedang menunggu diselamatkan. (RAY)
Sumber: Kompas, Rabu 3 November 2004, Rubrik Nusantara, hlm 31
Posted by Sinta at 04:46 AM | Comments (0)
November 02, 2004
Bataviawalks, Menyusuri Masjid Tua di Jakarta bersama Anak Jalanan dan Yatim
KPSBI-Historia mempersembahkan:
Bataviawalks: Menyusuri Masjid Tua di Jakarta
bersama Anak Jalanan dan Yatim
Minggu, 7 November 2004, Pkl. 14.00-18.30 WIB
ROUTE:
Museum Sejarah Jakarta
Stadhuis Plein
Kerkstracth
Kali Besar
Toko Merah
Chartered Bank
Jl. Telepon Kota
Jl. Pasar Pagi
Jl. Pengukiran II
Mesjid Al Anshor
Jl. Pekojan raya
Mesjid Langgar Tinggi
Mesjid Annawier /Mesjid Pekojan
Kampung Arab
Jl. Bandengan
Stasion KA Angke
Mesjid Angke
nara sumber:
M. Isa Anshari
Asep Kambali
dibuka untuk peserta bebas/umum dengan biaya:
Rp. 30.000,- (umum)
dari harga biasa Rp. 20.000,-
Rp. 20.000,- (student)
dari harga biasa Rp. 10.000,-
(subsidi silang bagi anak yang kurang mampu (kekurangan dana, red)(peserta umum maksimal 50 orang, dan anak jalanan estimasi 100 orang, bisa lebih tergantung dana)
peserta disarankan :
1. memakai topi anti panas :)
2. membawa handuk kecil, coz walking asli
3. membawa air minum bagi yang tidak berpuasa, yang puasa jangan :)
4. pakaian santai tapi sopan
5. membawa kamera atau alat domunetasi lain bagi yang seneng moto
5. untuk sumbangan: bagi anda yang punya makanan kecil, kolak, dan makanan bukaan lain yang mau nyumbang, dipersilahkan
6. membawa pakaian layak pakai putra-putrinya yang tidak terpakai lagi, atau baju baru kalau ada, dipersilahkan bagi yang mau nyumbang
7. dana tambahan untuk membantu panitia, dan berbagi bingkisan untuk anak yatim dan anak jalanan, kami tunggu dengan senang hati
Informasi selengkapnya:
Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia
(KPSBI-HISTORIA)
Jl. Pemuda II No. 35 Rt. 006/02 Rawamangun Jakarta Timur 13220
Asep Kambali di 0813-1550-1669, 0813-150-1669
Ida 0815-8621-8217
Suratman 0815-819-8586
Posted by Sinta at 05:34 AM | Comments (0)
Pengumuman PDA untuk peminat dokumentasi arsitektur
Pusat Dokumentasi Arsitektur [pda] akan mengerjakan pendokumentasian
gedung Departemen Keuangan (dahulu: Daendels Palace) di Jalan Lapangan
Banteng, Jakarta Pusat. Pendokumentasian ini akan terdiri dari
pengukuran dan penggambaran, foto-foto dokumentasi serta penulisan
sejarah bangunan.
Sehubungan dengan pekerjaan ini [pda] membutuhkan bantuan tenaga
arsitek/mahasiswa/peminat lainnya dengan kualifikasi setara dengan:
1. Mahasiswa semester 6 atau lebih
2. Mengerti gambar teknik
3. Mengerti prinsip-prinsip konstruksi bangunan
4. Mampu menggambar sketsa proporsional
5. Mempunyai minat terhadap bidang konservasi bangunan tua
Waktu pelaksanaan pekerjaan adalah bulan Okt 04 - Jan 05. Untuk
mahasiswa, jam kerja dapat disesuaikan dengan jadwal kuliah.
Bagi yang berminat harap menghubungi :
1. Devina S. Raditya
2. Esti Handayani
Pusat Dokumentasi Arsitektur [pda]
Jl Ridwan II / 21 – Patal Senayan
Jakarta 12210
Tel/fax : 021 – 5799.2602
Email : pusatdokumentasi@yahoo.com
Posted by Sinta at 05:14 AM | Comments (0)
Telah terbit, Konservasi dan Perkembangan Ekonomi
Telah terbit, buku berjudul Konservasi dan Perkembangan Ekonomi, Studi Kasus Kota Liverpool dan Chester, Inggris. Harga, Rp. 35.000,-
Bisa didapatkan di toko buku Gramedia Depok, Matraman, Kelapa Gading, WTC Serpong, Pondok Indah Mall, Toko Buku Basheer, Jakarta dan Toko Buku Toga Mas, Jogjakarta.
Atau hubungi email: arwityas@yahoo.com dengan harga Rp. 25.000 (belum termasuk ongkos kirim)
Posted by Sinta at 05:00 AM | Comments (0)
Telah terbit, Jakarta, Metropolis Tunggang Langgang
Judul: Jakarta, Metropolis Tunggang Langgang
Penulis: Marco Kusumawijaya
Cetakan: I, Juni 2004
Jumlah Halaman: 244
Penerbit: Gagas Media
Harga: Rp. 25.000,-
ISBN: 979-3600-23-3
"Jakarta telah membuat banyak orang frustrasi karena gagal menjadi tempat yang lebih baik untuk tinggal. Sebagian besar warganya hidup tunggang-langgang di dalam dan bersamanya. Namun, sebagai metropolis yang menawarkan kesempatan kosmopolitan, ia tetap saja menarik banyak orang. Ia masih dicintai banyak orang, meskipun kebencian mulai mengintai. Banyak impian pribadi terpenuhi, sebanyak yang terburai di antara para pecundang, tetapi harapan kolektif tak pernah sampai. Setiap orang tunggang-langgang menyesuaikan diri."
Buku yang berupa kumpulan 30 artikel ini pernah dimuat di berbagai media massa. Ditulis oleh Marco Kusumawijaya, arsitek sekaligus pengamat masalah perkotaan, khususnya Jakarta. Buku ini bisa didapat di toko buku langganan Anda di seluruh Indonesia.
Posted by Sinta at 04:22 AM | Comments (0)
Koleksi "Indonesian Heritage" jilid 1-10, Siapa Berminat?
Akan dilepas buku koleksi berjudul "Indonesian Heritage" jilid 1-10
(hardcover) dari Grolier yang berisi tentang ulasan kekayaan heritage Indonesia meliputi sejarah, alam, seni, budaya, arsitektur, dan lain-lain. Semuanya dalam kondisi baik.
Berikut Jilid/Judul-nya :
1. Ancient History
2. The Human Environment
3. Early Modern History
4. Plants
5. Wildlife
6. Architecture
7. Visual Arts
8. Performing Arts
9. Religion and Ritual
10. Language and Literature
Setiap Jiid terdiri dari 135 - 152 halaman, hard cover, ukuran 29x 22 cm.
Bagi yang berminat, silahkan kontak melalui jalur pribadi.
Sunaryo Kusumo
Mobile: +628157007752
Posted by Sinta at 04:12 AM | Comments (0)
International Seminar and Workshop on Heritage Conservation in Buton Castle
Pusat Kajian Indonesia Timur (PUSKIT) Universitas Hasanuddin disponsori oleh The Japan Foundation, Makassar menyelenggarakan "International Seminar and Workshop on Heritage Conservation in Buton Castle" di Bau-Bau, Buton, Sulawesi Tenggara yang akan diselenggarakan pada tanggal 1-5 Desember 2004. Kegiatan akan dimulai dengan sebuah preliminary seminar di atas kapal Mutyara yang akan berangkat pada tanggal 1 Desember 2004 pukul 19.30 WITA. Untuk selanjutnya, seminar akan dilaksanakan tanggal 2-5 Desember di kota Bau-Bau, Buton, Sulawesi Tenggara yang tepatnya akan diselenggarakan di kawasan Benteng Keraton Buton. Seminar ini bertemakan Gerakan Pelestarian Pusaka di Indonesia Bagian Timur.
Bagi yang berminat silakan menghubungi contact person:
Valentina Syahmusir, HP. 081524034015/ 08124207538.
Meta Sekar Puji Astuti, kantor PUSKIT UNHAS, 0411-588500 atau fax. 0411-585636 atau lewat mailing list JPPI atau di puskit3@yahoo.com.
Posted by Sinta at 03:51 AM | Comments (0)
Medan Menuju Kota Metropolitan
DATANGLAH sekarang ke Medan. Lihat kehidupan baru, geliat pembangunan dan bisnis yang nyaris berdenyut hampir 24 jam. "Ini Medan Bung", ungkapan klasik untuk menggambarkan betapa "keras" dan tingginya egoisme warga Kota Medan itu kini setahap demi setahap tampak mulai pudar. Sampai sekarang, satu-satunya bentuk "kekerasan" yang masih tersisa di Medan barangkali hanya satu, yakni soal kesemrawutan lalu lintas dan ulah para pengemudi yang seenaknya berkendara.
MELALUI moto pemacu semangat: "Bekerja sama dan sama- sama bekerja", Pemerintah Kota (Pemkot) Medan sejak tiga tahun terakhir terus berupaya menghidupkan kembali nostalgia dan citra masa lalu sebagai salah satu pusat dagang dan bisnis terkemuka di Tanah Air.
"Dalam satu-dua tahun ke depan, Kota Medan diharapkan menjadi pilihan wisata belanja bagi semua orang. Untuk mewujudkan itu, kuncinya adalah semua harus ada di sini. Karena itulah, sebagai langkah awal kita bangun beragam sarana dan prasarana pendukung, mulai dari jaminan keamanan 24 jam hingga membangun berbagai pusat perbelanjaan modern seperti mal dan plaza," ungkap Wali Kota Medan Abdillah dalam perbincangan dengan Kompas, akhir pekan lalu.
Pesatnya pembangunan mal dan plaza di Medan dua tahun terakhir ini setidaknya memang bisa menjadi indikasi betapa Pemkot Medan memang serius menggapai cita-cita untuk menjadikan Medan sebagai pusat perdagangan berkembang di Sumatera. Lihat saja kawasan pusat kota yang secara historis dari dulu memang menjadi sentra bisnis dan perdagangan, seperti di Jalan Gatot Subroto, Jalan Zainul Arifin, Jalan Imam Bonjol, dan sekitar kawasan Kantor Wali Kota Medan. Di sini sekarang bermunculan plaza dan mal modern, bangunan baru bertingkat dengan tawaran berbagai kemudahan belanja dan perdagangan.
Dalam tiga tahun terakhir (sejak tahun 2001) Pemkot Medan mencatat paling tidak ada 11 plaza dan tiga mal baru yang ikut menyemarakkan denyut kehidupan bisnis dan perdagangan di ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini. Pada kurun waktu yang sama hingga tahun 2004 ini, total investasi di Kota Medan berkisar antara Rp 8 triliun dan Rp 10 triliun.
"Dilihat dari aktivitas pembangunan fisik kota, sepertinya Kota Medan sekarang betul-betul sudah terbebas dari krisis. Lihat saja geliat investasi di bidang ritel, properti, dan bisnis lain, tampak tumbuh subur bak jamur di musim hujan," kata Jhon Tafbu Ritonga, pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU).
Kuncinya, kata Abdillah, tidak terlepas dari situasi dan kondisi keamanan yang kondusif di daerah ini.
Di samping itu, letak geografis Medan yang strategis-hanya sekitar satu jam terbang dengan pesawat dari Singapura, Penang, atau Kuala Lumpur (Malaysia)-membuat kota ini kian menggiurkan sebagai lahan investasi.
MEMBANGUN Kota Medan menjadi pusat perdagangan, bisnis, dan jasa di Sumatera memang bukanlah sekadar mimpi di siang bolong. Sebab, kalau dilihat sejarah kota yang kini dihuni sekitar 2,1 juta jiwa itu, sejak ratusan tahun lalu sudah jadi pusat perdagangan masyhur hingga ke Eropa.
Salah satu booklet yang diterbitkan Pemkot Medan menukilkan, Medan, yang dalam bahasa Melayu berarti tempat yang luas untuk berkumpul, sejak zaman dulu memang menjadi tempat berkumpulnya para pedagang dan "petaruh" dari kawasan Hamparan Perak, Stabat, Suka Piring, dan lain-lain.
Ketika dibangun sekitar tahun 1590 oleh Guru Patimpus, keturunan Raja Singa Mahraja yang memerintah Negeri Bakerah di Dataran Tinggi Karo, Medan hanyalah sebuah perkampungan kecil bernama Medan Puteri. Sekitar awal abad XVII tempat ini jadi rebutan antara Aceh dan penguasa Tanah Deli.
Posisi ini sangat strategis, terletak pada pertemuan dua sungai, Sungai Deli dan Sungai Babura, yang memang sejak dulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang ramai.
Perkembangan Medan sebagai pusat perdagangan justru semakin pesat sejak dibukanya lahan perkebunan tembakau. Tengku Lukman Sinar dalam bukunya, Sejarah Medan Tempo Doeloe, menulis bahwa awalnya seorang Arab Surabaya bernama Said Abdullah Bilsagih, yang menjadi ipar Sultan Mahmud Perkasa Alam Deli, mengajak beberapa pedagang Belanda di Jawa untuk menanam tembakau di Tanah Deli.
Setelah bercocok tanam tembakau, sekitar tahun 1864 hasil panen tembakau Deli ini dikirim ke Rotterdam, Belanda. Ternyata, tembakau Deli mendapat sambutan hangat karena kualitasnya yang sangat baik sebagai pembalut cerutu.
Diakui, pembangunan mal, plaza, dan pusat pasar berskala besar dengan arsitektur modern bukanlah dimaksudkan untuk "mengubur" identitas Medan sebagai kota tua. Sebab, sejumlah bangunan tua tetap akan menjadi ciri khas kota ini. Sebut, misalnya, Balaikota Medan yang lama, yang dibangun sekitar tahun 1900, tetap akan dijadikan landmark kota, kendati di kawasan itu akan didirikan bangunan baru bernama The City Hall, sebuah pusat pertokoan dan hotel.
Menurut Jhon Tafbu, sebagai sebuah kota yang miskin sumber daya alam, bagaimanapun kota itu harus mengandalkan hidup pada sektor bisnis, jasa, perdagangan, dan lain-lain.
OBSESI membangun kembali Parijs van Sumatera (kembaran Paris di Sumatera) di Kampung Guru Patimpus selayaknya memang tidak harus mengorbankan masyarakat, terutama mereka yang bermukim di pinggiran kota. Sebab, warga memiliki potensi dan kekuatan besar untuk mewujudkan obsesi itu. Dalam konteks inilah, seyogianya konsentrasi pemkot juga menyentuh para pelaku ekonomi marjinal.
"Keuntungan yang diraih Pemkot Medan dari kemunculan plaza, mal, dan pusat bisnis seharusnya diinvestasikan kembali untuk menata pinggiran kota. Jika itu tidak dilakukan, kekhawatiran kita bahwa masyarakat akan terpinggirkan dan mereka hanya jadi penonton bisa jadi terbukti nanti. Bayangkan saja, dari sekitar dua juta penduduk Kota Medan, sekitar 1,4 juta orang berpotensi menjadi penonton aktif yang hanya bisa sekadar mejeng di plaza-plaza," ujar Jhon Tafbu.
Dilihat dari potret ekonomi Kota Medan saat ini, tampak jelas adanya sesuatu yang perlu disikapi. Lihat saja struktur ekonomi Medan yang masih didominasi struktur tersier (sekitar 67 persen). Sedangkan struktur ekonomi primer sekitar 4,11 persen dan sekunder sekitar 28,9 persen. Tingkat pengangguran terbuka (data tahun 2003) tercatat 15,23 persen.
Namun, Jhon Tafbu yang juga Ketua Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan USU itu mengakui, dari segi ekonomi dan transaksi perbankan, ada potensi besar yang dimiliki warga Kota Medan, yakni tingginya potensi mereka yang punya uang dan menabung di bank- bank. Tahun 2002 jumlah simpanan masyarakat di perbankan di Medan tercatat Rp 21,2 triliun. Tiga tahun kemudian, hingga Mei 2004, angka ini melonjak drastis menjadi Rp 30,8 triliun.
"Kampung kecil" Guru Patimpus ini sekarang tampak tengah menapak untuk menjadi sebuah kota metropolitan. Akan tetapi, nuansa metropolitan itu tentu tidak melulu harus digambarkan dengan gemerlap lampu di malam hari. Bukan pula diwujudkan dengan megahnya plaza, mal, dan pusat belanja modern.
Semangat Medan Metropolitan tentu harus pula menyentuh mereka yang berada di pinggiran, yang menjadi bagian mayoritas dari dua juta penduduk kota ini….
(Ahmad Zulkani/ Hamzirwan/Ahmad Arif)
Sumber: Kompas Senin, 1 November 2004, Rubrik Teropong, hlm 30
Posted by Sinta at 03:40 AM | Comments (0)
Bangunan Tua Pun Kian Sirna
MEDAN terus menggeliat. Kota tua yang akan genap berusia 415 tahun pada 1 Juli 2005 mendatang kian tergoda untuk menjadi kota metropolitan. Wali Kota Medan Abdillah pun berambisi menjadikan kota ini sebagaimana kota-kota besar di negara tetangga, seperti Penang dan Kuala Lumpur, jauh melampaui Jakarta atau Surabaya di Jawa.
Executive Director Badan Warisan Sumatera Ir Soehardi Hartono MSc menilai, napas pembangunan Medan menuju kota metropolitan adalah napas penuh gairah yang tergesa meraup keuntungan jangka pendek, dengan mengabaikan aspek lingkungan dan berbagai aspek sosial-budaya masyarakat.
Menurut dia, penghancuran bangunan-bangunan tua merupakan contoh nyata ketergesaan kota ini meraup pendapatan asli daerah. Dalam 10 tahun terakhir tak terhitung lagi jumlah bangunan tua yang dirobohkan atas nama pembangunan.
Tengoklah beberapa monumen masa lalu yang kini hanya tinggal nama dan cerita. Sebut misalnya eks Kantor Bupati Deli Serdang di Jalan Brigjen Katamso, Gedung South East Asia Bank di Jalan Ahmad Yani, eks Kantor Dinas Pekerjaan Umum Medan di Jalan Listrik, bangunan bersejarah Balai Kerapatan Adat di Jalan Brigjen Katamso, serta puluhan rumah melayu di Kompleks Perum Kereta Api.
Di Jalan Suka Mulia, eks Kantor Badan Kepegawaian Daerah Sumatera Utara juga sudah rata dengan tanah. Rencananya, di bekas lokasi gedung tua ini akan dibangun apartemen mewah.
Dua tahun lalu bangunan bersejarah yang merupakan perpaduan arsitektur Eropa dan tropis, yaitu eks Gedung PT Mega Eltra, juga rata dengan tanah.
Dan, yang kini masih hangat adalah pembongkaran sebagian bangunan eks Bank Modern di kawasan Kesawan, Jalan Ahmad Yani. Bangunan yang bercorak art deco itu pernah menjadi Kantor Perwakilan Stork, perusahaan Belanda yang memproduksi dan menjual mesin- mesin industri perkebunan.
Namun kini bangunan yang berusia 75 tahun itu bagian atap dan seluruh dinding dalam bangunan telah dihancurkan sehingga hanya menyisakan tampak muka dan samping gedung.
Pembongkaran sebagian bangunan eks Bank Modern itu kian menambah daftar perusakan bangunan tua di kawasan Kesawan. Padahal, keindahan gedung-gedung tua yang berjajar di kawasan Kesawan itulah yang menyebabkan Medan juga digelari sebagai Parijs van Sumatera.
Pemerintah Kota Medan dengan mudah memberikan izin pembongkaran bangunan itu. Di bagian depan gedung, di samping tulisan "Dijual", telah terpampang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Nomor 01581/644.4/655/04.01, tanggal 14 April 20004, untuk pendirian satu unit ruko.
Menurut Mimi, pihak developer gedung baru itu, bangunan ini akan disulap menjadi ruko bertingkat lima dan akan selesai dibangun tahun 2005. "Satu unit ruko telah laku Rp 1,4 miliar," katanya.
Kepala Dinas Tata Kota Medan Irman Dj Oemar mengakui pihaknya kesulitan untuk mempertahankan seluruh bangunan tua di Medan. "Tidak semua bangunan tua di Medan harus dipertahankan secara utuh. Seperti bangunan tua di Kesawan, pemilik tentu berat jika harus membayar pajak mahal, sementara bangunan tua yang dimilikinya tak bermanfaat optimal. Karena itu, kami mengizinkan pembangunan kembali eks Bank Modern," katanya.
Menurut Irman, sebanyak 42 bangunan tua di Medan dilindungi oleh Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 1988 tentang Pelestarian Bangunan dan Lingkungan yang Bernilai Sejarah Arsitektur Kepurbakalaan serta Penghijauan Dalam Daerah Kota Medan. Akan tetapi , sebagian yang lain memang belum dilindungi dan bisa saja diubah sesuai dengan kebutuhan.
Bangunan-bangunan tua lain yang belum dimasukkan dalam Perda No 6/1998 itulah yang kini menunggu penghancuran. "Seharusnya ada 40 bangunan individu lagi yang harus dilindungi oleh perda karena bangunan itu memang memiliki kekhasan dan sejarah. Karena itu, kami mengusulkan agar pemerintah meninjau kembali perda itu sehingga tak ada kesan yang di luar 42 bangunan tadi bisa seenaknya dihancurkan," kata Soehardi.
Bahkan, menurut dia, dua bangunan dari 42 yang dilindungi oleh perda tersebut ternyata juga dihancurkan, yaitu Kantor Bupati Deli Serdang dan Bank South Asia di Jalan Pemuda.
Pelaku perusakan atau perubahan bentuk pada bangunan bernilai sejarah di Kota Medan, Sumatera Utara, hanya diancam denda Rp 50.000 atau hukuman penjara selama-lamanya tiga bulan. Ketentuan yang berlaku itu sesuai dengan Perda Tingkat II Medan No 6/1988.
KETUA Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia dan Anggota Dewan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia Laretna T Adishakti mengatakan, penghancuran bangunan tua di Indonesia memang kian marak, termasuk di Medan.
"Kami tengah menyusun petisi untuk melindungi pusaka, alam, dan budaya Indonesia. Petisi itu akan kami sampaikan kepada Presiden, Ketua DPR, gubernur-gubernur, dan seluruh pejabat terkait," katanya.
Menurut dia, pembongkaran bangunan-bangunan bersejarah di Medan bertolak belakang dengan upaya konservasi di sejumlah negara Asia, termasuk di Kota Malaka, Malaysia. Di kota yang berdekatan dengan Medan ini bangunan-bangunan tua dipertahankan kelestariannya dan telah menjadi aset wisata.
Namun, melihat pembongkaran bangunan tua yang terus terjadi, Kota Tua Medan ini benar-benar akan kehilangan artefak yang diwariskan para pembangun kota ini selama beratus tahun? Akankah kelak kota ini hanya akan mewariskan sampah-sampah arsitektur akibat kepentingan ekonomi jangka pendek?
Menurut Laretna, para pengelola kota seharusnya memandang ke depan untuk menentukan arah pembangunan yang dipilih. Yaitu, arah yang seharusnya mampu melahirkan karya-karya baru arsitektur yang kreatif dan berkualitas, tanpa merusak pusaka yang ada. Justru yang baru dan tua harusnya berdampingan menjadi pusaka-pusaka baru bagi generasi mendatang, serta menyejahterakan seluruh warga.
Sebagai kota tua, Medan kini memang tengah menghadapi situasi yang dilematis. (AIK/HAM/ZUL)
Sumber: Kompas Senin, 1 November 2004, Rubrik Teropong, hlm 31
Posted by Sinta at 03:32 AM | Comments (0)
November 01, 2004
Deklarasi TONGGAK TAHUN PUSAKA INDONESIA 2003
untuk
DASA WARSA PELESTARIAN PUSAKA INDONESIA 2004 – 2013
Berakhirnya tahun 2003 bukan berarti pula semangat Tahun Pusaka Indonesia 2003 berakhir. Tahun Pusaka Indonesia 2003 merupakan Tonggak upaya pelestarian pusaka Indonesia ke depan. Pelaku dan pemerhati pelestarian pusaka dari berbagai daerah di Indonesia sepakat untuk terus melanjutkannya dengan melaksanakan Dasa Warsa Pelestarian Pusaka Indonesia 2004 – 2013, sebagai berikut:
1. Visi Dasa Warsa Pelestarian Pusaka Indonesia 2004 – 2013 adalah kesinambungan visi Tahun Pusaka Indonesia 2003 yaitu secara nasional tumbuh gerakan kepedulian publik dan meningkatnya pendidikan bangsa Indonesia dalam pelestarian pusaka serta menjadikan gerakan ini sebagai upaya membangun jati diri bangsa, demi menjadikan masyarakat Indonesia yang seimbang dan lebih baik.
2. Agenda Dasa Warsa Pelestarian Pusaka Indonesia 2004 – 2013:
a. Melaksanakan 8 (delapan) Agenda Tindakan Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003;
b. Mendorong perubahan sikap semua pihak agar tumbuh kebersamaan dalam menjaga dan mengupayakan pelestarian pusaka, dan menjadikan pelestarian pusaka sebagai Gerakan Masyarakat yang kuat;
c. Pelestarian pusaka Indonesia menyangkut pusaka alam, pusaka budaya dan pusaka saujana. Demi menjaga kelestarian keanekaragaman pusaka tersebut akan diselenggarakan kampanye pembangunan berwawasan budaya-lingkungan;
d. Dalam mengemban Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia akan dibentuk Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (Indonesia Heritage Trust) berkedudukan di Jakarta, dan penguatan Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia (JPPI) serta berbagai organisasi pelestarian daerah.
e. Melaksanakan penelitian dan pendataan Pusaka Nasional Indonesia serta mempersiapkan perangkat operasionalnya.
f. Memasukan gagasan pelestarian pusaka ke dalam berbagai peraturan perundangan yang terkait
3. Mengusulkan kepada pemerintah:
a. Membentuk Kelembagaan Kebudayaan yang tetap dan mandiri sehingga mampu mengemban visi dan misi serta strategi kebudayaan nasional termasuk pelestarian pusaka secara stabil dan berkesinambungan.
b. Menggunakan kata pusaka sebagai padanan kata “heritage”
c. Melakukan kerjasama dalam pembentukan dan pengelolaan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia serta berbagai kegiatan pelestarian pusaka lainnya.
d. Membentuk institusi penasehat Presiden dalam bidang pelestarian pusaka
e. Mendorong percepatan revisi Undang-undang No. 5. 1992 tentang Benda Cagar Budaya
4. Tonggak TPI2003 dan Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003 akan disosialisasikan secara berkesinambungan di tingkat lokal, nasional maupun internasional.
Tonggak Tahun Pusaka Indonesia 2003
Ciloto, 13 Desember 2003
Posted by admin at 07:25 AM | Comments (0)