« Announcing the "3rd International Field School for Asian Heritage | Main | Pelestarian Warisan Seni Bangunan Indis di Bandung »
November 27, 2004
Gedung-gedung Tua Akan Dibongkar untuk Mal dan Hotel
Palembang, Kompas - Dalam waktu lima tahun ke depan, sejumlah gedung tua bersejarah yang menjadi ciri khas Kota Palembang, Sumatera Selatan, akan menghilang. Pemerintah Kota Palembang berencana meratakan dengan tanah gedung-gedung lama itu demi membangun mal dan hotel.
Rencana tersebut terungkap dalam paparan mengenai pembangunan kota oleh Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Palembang, Selasa (23/11). Eddy menuturkan, sejumlah kawasan di pusat Kota Palembang perlu ditata kembali untuk menyesuaikan dengan kondisi perkembangan kota. Rencana itu antara lain meliputi penataan kawasan sekitar Benteng Kuto Besak dan Pasar Cinde.
Kawasan Benteng Kuto Besak mencakup bangunan dan lahan delapan hektar di tepian Sungai Musi. Di kawasan tersebut terdapat bangunan tua bersejarah, seperti Kantor Wali Kota Palembang yang dulunya Kantor Perusahaan Air Minum zaman Belanda, Balai Prajurit, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, yang aslinya adalah rumah Residen Belanda.
Setelah membangun ruang terbuka di depan Benteng Kuto Besak, Pemkot Palembang akan membangun hotel berbintang lima di lokasi tersebut. Berdasarkan usulan konsultan pembangunan hotel, ada sejumlah alternatif, yaitu lahan yang saat ini di atasnya berdiri Gedung Balai Prajurit yang dipakai oleh Komando Daerah Militer (Kodam) II Sriwijaya, Balai Pertemuan yang menjadi Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Palembang, dan Kantor Perbekalan Kodam II Sriwijaya.
Konsekuensinya, seluruh bangunan tua di lokasi tersebut harus dibongkar. Hal sama juga akan dilakukan terhadap Pasar Cinde di Jalan Sudirman. Pasar tradisional di pusat kota yang dibangun tahun 1958 itu akan diratakan dengan tanah. Pemkot Palembang berencana membangun pasar tradisional yang dipadukan dengan mal dan hotel.
"Ada pihak yang keberatan dengan rencana pembongkaran Pasar Cinde, dengan alasan termasuk bangunan tua dengan arsitektur khas. Akan tetapi menurut saya, Pasar Cinde itu biasa saja, tidak monumental sehingga tak perlu dipertahankan," kata Eddy.
Rencana Pemkot Palembang, yang akan mengorbankan gedung-gedung tua untuk membangun hotel dan mal tersebut, disayangkan oleh pemerhati bangunan tua di Palembang. Ketua Palembang Heritage Ari Siswanto menyesalkan paradigma keuntungan secara ekonomi yang dianut Pemkot Palembang. (dot)
Sumber: http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0411/24/daerah/1398120.htm
Posted by Sinta at November 27, 2004 04:35 AM
Comments
Ketika paradigma ekonomi berurusan dan bertempur dengan kepentingan pelestarian, perkataan 'tidak monumental' adalah pernyataan klise untuk melanggengkan pelaksanaan proyek yang 'menguntungkan' - entah siapa yang diuntungkan.
Monumental diukur dengan kemegahan, skala gigantis, dan nilai-nilai perjuangan. Hal inilah yang kacau jika harus bertemu dengan bangunan-bangunan tua. Bangunan tua - yang terkadang tidak kurang nilai monumentalnya dari sudut pandang heritage - sengaja dibuat kumuh dan tidak menarik sehingga ada alasan kuat untuk menghancurkan.
Pasar Cinde memang tidak semegah Monpera atau Jembatan Ampera, tapi bukankah dari unsur sejarah dan nilai heritage - salah satu pasar yang dirancang dengan struktur cendawan - tidak ternilai. Sudut pandang monumental inilah yang perlu dirombak dan didekontruksi.
Posted by: johannes at December 3, 2004 04:03 AM