« Tidak Etis Umumkan Temuan Liang Bua Tanpa Libatkan Indonesia | Main | Siapakah Dia, "Homo Floresiensis"? »

November 05, 2004

Fosil Manusia Flores Itu Diumumkan di Australia

Oleh: Etty Indriati

INDONESIA termasuk dalam peta paleoantropologi dunia dan situs-situs prasejarahnya amat kaya dengan berbagai variasi biologis manusia dari 1,6 juta tahun lalu sampai ribuan tahun lalu. Alangkah baiknya apabila ada perhatian pemerintah dalam hal dana penelitian dan pendidikan paleoantropologi bagi institusi yang memiliki ahli dalam bidang ini. Minimnya dana pendidikan membuat dosen bioarkeologi dan paleoantropologi hampir-hampir bekerja sukarela untuk mewariskan ilmunya kepada para mahasiswa. Minimnya dana pendidikan diperburuk oleh ketiadaan dana penelitian sehingga mau tidak mau peneliti Indonesia terpaksa bekerja sama dengan pihak luar negeri.

KERJA sama yang membuahkan temuan manusia Flores menimbulkan kegusaran karena diumumkan di Australia tanpa kehadiran peneliti Indonesia. Bahkan, penelitian pun belum selesai. Temuan manusia Flores menjadi sangat penting karena didapat dari penggalian sistematis sehingga konteks temuan diketahui: lapisan tanah, fosil fauna, dan kemungkinan besar in situ-lokasi mati sama dengan lokasi temuan.

Yang menyedihkan, penggalian di Goa Liang Bua ini telah dilakukan peneliti-peneliti Indonesia secara sporadis selama puluhan tahun, tetapi yang menuai ketenaran dan pengakuan adalah Mike Morwood dan Peter Brown dari Australia. Semua media merujuk nama mereka (antara lain Kompas, Jawa Pos, the International Herald Tribune, New York Times, Jakarta Post, USA Today, dan The Asian Wall Street Journal). Ini terjadi karena hanya Morwood dan Brown-lah yang mengumumkan itu dalam konferensi pers di Sydney, Australia.

Bisa dimengerti kalau hal ini membuat Profesor Soejono sebagai ketua tim peneliti Indonesia dan yang telah lama menggali di Liang Bua sejak tahun 1970-an gusar (Kompas tanggal 29 dan 30 Oktober, 2004).

Pengumuman resmi temuan fosil manusia Flores di Australia tanpa kehadiran peneliti Indonesia ini membuat saya bertanya-tanya, apakah Morwood dan Brown mencantumkan peneliti-peneliti Indonesia yang menemukan manusia Flores dalam jurnal Nature?

Nama saja tak cukup

Terdapat dua tulisan di Nature terbitan 29 Oktober 2004 mengenai manusia Flores ini. Pertama, dalam Letters to Nature berjudul "Archaeology and age of a new hominin from Flores in eastern Indonesia" (MJ Morwood, RP Soejono, RG Roberts, T Sutikna, CSM Turney, KE Westaway, WJ Rink, JX Zhao, GD van den Berg, Rokus Awe Due, DR Hobbs, MW Moore, MI Bird, LK Fifield).

Dengan kata lain, penulis pertama adalah Morwood, dan komposisi pengarang terdiri dari 3 orang Indonesia dan 11 orang non-Indonesia.

Tulisan yang kedua di Nature berjudul "A new small-bodied hominin from the Late Pleistocene of Flores, Indonesia", ditulis oleh P Brown, T Sutikna, MJ Morwood, RP Soejono, Jatmiko, E Wahyu Saptomo, dan Rokus Awe Due.

Jadi, Morwood dan Brown setidaknya telah memasukkan nama-nama peneliti Indonesia yang bekerja keras melakukan penggalian di Goa Liang Bua, Flores, dalam artikel di Nature. Namun, cukupkah itu?

Tidak! Pertama, karena dalam kaidah ilmiah, apabila jumlah pengarang lebih dari dua orang, sitasinya menjadi pengarang pertama dan kawan-kawan. Dengan demikian, dua artikel di Nature pengumuman pertama manusia Flores sitasinya menjadi Morwood et al, dan Brown et al.

Kedua, karena Morwood dan Brown mengumumkan hasil temuan manusia Flores ini di Australia tanpa kehadiran peneliti Indonesia yang telah melalui proses panjang mendapatkan temuan ini. Gara-gara konferensi pers tersebut, semua media mengangkat nama Morwood dan Brown, bukan peneliti Indonesia. Seharusnya, konferensi pers diadakan di Indonesia tempat penemuan digali, dan bersama-sama peneliti Indonesia yang bekerja dalam penggalian di Liang Bua.

Meskipun dalam kerja sama Pusat Arkeologi Nasional dengan Morwood pihak Australia memberikan bantuan dana penggalian di tahun 2003, bukan berarti hak pertama kali mengumumkan dan meneliti materi ilmiah ada di penyandang dana. Penelitian kerja sama yang menghasilkan fosil temuan dalam publikasi setidaknya harus melibatkan kedua pihak bergantian sebagai pengarang utama.

Suatu temuan bisa dibuat beberapa tulisan sekaligus, di sini satu tulisan bisa pengarang utamanya peneliti dari mana fosil digali/berasal, tulisan lain pemberi dana sebagai pengarang utama. Pengumuman resmi fosil temuan sebaiknya dilakukan bersama tim yang bekerja sama.

Contoh kerja sama

Dua contoh penelitian kerja sama di dunia paleoantropologis yang tetap menghargai peneliti negara di mana fosil ditemukan adalah di Georgia (dulu bagian dari Uni Soviet) Eropa, dan di Etiopia, Afrika. Temuan fosil rahang dan tengkorak Homo erectus Dmanisi D211, D2280, dan D2282 dipublikasi pertama kali oleh Gabunia et al, di Science Mei 2000.

Leo Gabunia adalah ketua tim peneliti Dmanisi dari Georgia, kini telah tiada (1920-2001), dan penggantinya adalah David Lordkipanidze. Gabunia menjadi first author dalam Science ketika temuan fosil Dmanisi pertama kali diumumkan, meskipun penelitian ini mendapat bantuan dana dan kerja sama dengan peneliti Jerman.

Pada Januari 2001 saya diundang meneliti Homo erectus dari Dmanisi ini dan boleh memublikasikan sebagai pengarang utama. Temuan fosil Homo erectus dari Bouri, Etiopia, pertama kali diumumkan di Letters to Nature edisi Maret 2002, penulis pertamanya adalah Berhane Asfaw, peneliti Etiopia dari Rift Valley Research Service, Etiopia, meskipun pendanaannya dari Amerika.

Mampukah kita, peneliti Indonesia, memiliki bargaining position, kejelian memilih partner kerja sama yang punya etika, dan melindungi diri dari perilaku tidak etis dari peneliti luar negeri?

Jawabannya ada di tangan kita sendiri. Pada tahun 1978 ketika Profesor Leslie Freeman dari Universitas Chicago Amerika ke Yogyakarta dan meneliti bersama Profesor Jacob dan Profesor Soejono mengenai alat batu di Jawa, hasilnya adalah publikasi di majalah Science dengan komposisi pengarang: T Jacob, RP Soejono, LG Freeman, dan FH Brown pada artikel berjudul "Stone tools from Mid-Pleistocene Sediments in Java". Sitasi dalam karya ilmiah menjadi Jacob et al, 1978. Bukan Freeman et al, 1978.

Maka, agar pengalaman pahit pengumuman manusia Flores tak terulang lagi, peneliti Indonesia harus saling mendukung untuk menjaga intellectual dignity. Bila ada ahlinya di Indonesia, janganlah akses ini dibuka sehingga begitu mudah diambil orang luar.

Bila bekerja sama dengan asing, perlu dibuat kesepakatan tertulis dari awal: bila ada temuan fosil, hak publikasi dan pengumuman resmi harus memprioritaskan tim peneliti negara dari mana fosil digali. Fosil sebagai kekayaan materi ilmiah dan budaya untuk merekonstruksi peradaban manusia harus disimpan dengan baik dan bertanggung jawab.

Akses kepada peneliti luar harus benar-benar dipikirkan akan untuk apa dan apakah akan merugikan atau tidak.

Etty Indriati PhD Dosen dan Peneliti di Laboratorium Bio-paleoantropologi FK UGM Yogyakarta

Sumber: Kompas, 5 November 2004

Posted by Sinta at November 5, 2004 04:14 AM

Comments

Post a comment




Remember Me?