« Fosil Manusia Flores Itu Diumumkan di Australia | Main | Palembang Perlu Melindungi Bangunan Tua »

November 05, 2004

Siapakah Dia, "Homo Floresiensis"?

Oleh: Harry Widianto

PENGUMUMAN penemuan Homo floresiensis pekan lalu di Sydney, Australia, telah ditanggapi dengan gegap gempita oleh dunia pengetahuan. Sisa-sisa manusia yang ditemukan di sebuah goa permukiman prasejarah, Liang Bua, Flores, telah memunculkan kisah aktual tentang evolusi manusia dari kurun 18.000-30.000 tahun silam, dan diidentifikasi sebagai spesies baru dalam garis evolusi manusia. Inilah salah satu ironi terbesar dalam sejarah paleoantropologi karena temuan yang menakjubkan dan revolusioner tersebut-yang telah memberikan sinar terang bagi asal-usul manusia-telah datang dari suatu peripery "Dunia Lama": Flores.

LALU, apa keistimewaan temuan tersebut bagi kisah evolusi manusia? Mengapa hadirnya Homo floresiensis mampu mengentak dunia pengetahuan? Siapakah dia, dan pesan apa yang ingin dia sampaikan bagi dunia pengetahuan?

Evolusi manusia

Evolusi manusia merupakan salah satu proses sangat penting yang tidak dapat dilepaskan dari konteks historis Pulau Jawa. Sebagai bagian dari "Dunia Lama", Pulau Jawa telah demikian terkenal di mata dunia akibat berbagai penemuan penting di bidang paleoantropologi. Sisa- sisa manusia purba Pithecanthropus erectus yang ditemukan oleh Eugene Dubois di akhir abad ke-19 pada endapan purba Bengawan Solo di Trinil, Jawa Timur, merupakan temuan spektakuler yang menggemparkan dunia saat itu karena dianggap sebagai penemuan missing-link, bagian dari reaksi ilmiah atas konsep evolusi Charles R Darwin.

Setahun sebelum penemuan Situs Trinil tahun 1891, telah pula ditemukan-juga oleh Dubois-fosil Pithecanthropus lainnya dari endapan Plestosen Tengah di Kedungbrubus, tidak jauh dari Trinil. Bahkan, pada tahun-tahun setelah itu, semenjak tahun 1930-an, distribusi situs manusia purba di Pulau Jawa tidak lagi terbendung eksistensinya. Situs-situs yang terletak di Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut berada di empat kondisi fisiografis, yaitu cekungan Solo (Sangiran), jalur Pegunungan Kendeng (Kedungbrubus, Trinil, dan Perning-Mojokerto), aluvial Bengawan Solo (Ngandong, Sambungmacan, dan Ngawi), maupun endapan vulkanik Gunung Muria (Patiayam).

Penemuan-penemuan itu dan perkembangan dunia ilmiah pun kemudian mengantarkan secara mantap Pithecanthropus erectus sebagai bagian dari evolusi manusia, yang kemudian diresmikan sebagai salah satu fosil dalam genus Homo dan dinamakan Homo erectus. Sekitar 100 individu Homo erectus ditemukan di berbagai situs kuarter di Indonesia, yang dalam kajian evolutifnya menunjukkan adanya tiga tingkatan evolusi manusia selama lebih dari satu juta tahun, antara 1,5 dan 0,1 juta tahun lalu.

Tingkatan tersebut adalah Homo erectus arkaik, paling purba (1,5-1,0 juta tahun lalu), Homo erectus tipik (0,9-0,4 juta tahun silam), dan Homo erectus progresif. Tingkatan yang disebut terakhir ini paling maju, sebagai Homo erectus terakhir di Indonesia (0,3-0,1 juta tahun lalu).

Segi-segi evolusi fisik menunjukkan bahwa Homo erectus merupakan spesies yang sangat penting bagi pemahaman tentang evolusi manusia karena dia memberikan gambaran evolutif sebelum mencapai bentuk yang sekarang: Homo sapiens, manusia bijak, modern. Spesies tersebut terakhir, yang banyak ditemukan di endapan-endapan goa prasejarah di Gunung Sewu, berasal dari awal Kala Holosen.

Jumlah individu penghuni goa prasejarah tersebut telah ditemukan tidak kurang dari 20 individu, yang berasal dari Goa Braholo dan Song Tritis (Rongkop, Gunungkidul), dan Song Keplek, Song Terus, maupun Song Gupuh (Punung, Pacitan), dengan usia paling tua-untuk sementara-adalah 13.000 tahun. Manusia Wajak atau Homo wadjakensis, yang awalnya dianggap sebagai sapiens pertama di Indonesia, berasal dari kurun 11.000 tahun lalu, dan merupakan bagian dari perkembangan akhir Homo sapiens fosil.

Melihat spesies manusia dan periodisasi tersebut, maka telah terjadi kesenjangan evolutif selama paling tidak 100.000 tahun, sejak Homo erectus terakhir dan Homo sapiens tertua di Pulau Jawa.

Masalahnya, aspek-aspek morfologi fisik antarkedua spesies tersebut-terutama pada struktur tengkoraknya sebagai bagian tubuh manusia yang paling signifikan mengalami perubahan dalam proses evolusi- amat sangat berbeda. Homo erectus menunjukkan karakter tengkorak yang sangat arkais dibandingkan dengan Homo sapiens; tengkorak memanjang dan rendah, dahi miring ke belakang, tulang kening sangat menonjol, muka lebar tetapi pendek, tulang tengkorak tebal, alat-alat mastikasi (rahang maupun gigi) sangat kuat, muka menjorok ke depan (prognath), dan banyak lagi karakter arkais lainnya.

Dua masalah telah mewarnai situasi ini, yaitu proses evolusi fisik yang berubah drastis dari erectus ke sapiens hanya dalam waktu kira-kira 100.000 tahun terakhir, dan kesenjangan data akan fosil manusia selama periode tersebut, yang dapat menjembatani perubahan fisik dari seorang erectus ke seorang sapiens, sejak era Homo erectus terakhir (Ngandong, Sambungmacan, dan Ngawi) dan Homo sapiens pertama di Pulau Jawa (Wadjak, Goa Braholo, Song Keplek, Song Terus). Artinya, diperlukan fosil penghubung, yang sekaligus mempunyai ciri-ciri erectus dan sapiens dalam satu individu yang sama.

Dalam pandangan penulis, persoalan transisi evolutif dari Homo erectus ke Homo sapiens inilah yang selama beberapa dekade ini telah menjadi persoalan yang paling penting dalam dunia paleoantropologi Indonesia: di manakah fosil transisi tersebut akan ditemukan?

Signifikasi temuan

Bumi Flores pun agaknya merupakan jawaban yang sangat menjanjikan. Gegap gempitanya penemuan Homo floresiensis-menurut nama yang diberikan dalam pengumuman temuan tersebut-mungkin merupakan salah satu penerang dalam proses evolutif dari Homo erectus ke Homo sapiens di Indonesia. Pasalnya, fosil manusia tersebut mempunyai dua arti penting bagi evolusi manusia.

Pertama, dia menunjukkan ciri-ciri erectus dan sapiens dalam individu yang sama, dan kedua, masa hidupnya berasal dari kurun 18.000-30.000 tahun yang lalu. Ini berarti merupakan masa setelah berakhirnya era Homo erectus di Indonesia, dan sebelum maraknya periode kehidupan Homo sapiens di kepulauan ini, setidaknya berdasarkan data hingga saat ini.

Ditafsirkan tingginya berukuran sekitar satu meter, Homo floresiensis mempunyai tengkorak yang kecil, dengan kapasitas tengkorak 380 cc (bandingkan dengan manusia modern, 1.200 cc). Meski tengkoraknya cukup kecil, dia telah mengalami perkembangan sempurna, yang berdasarkan erupsinya gigi geraham ketiga, menunjukkan individu dewasa yang telah melampaui usia 18 tahun. Apabila dikaitkan dengan masa hidupnya yang berasal antara 18.000 dan 30.000 tahun yang lalu, hampir pasti fosil ini harus dipandang sebagai bagian dari spesies Homo sapiens, sama seperti saudara- saudara mereka yang hidup di goa-goa di Niah (Serawak) ataupun Goa Tabon (Filipina).

Hal yang sangat menarik dari fosil ini, selain ukurannya yang kecil dan hampir pasti merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan insuler mereka, adalah masih dikonservasinya beberapa karakter arkais yang lazim ditemukan di kalangan Homo erectus. Atap tengkoraknya mempunyai morfologi yang memanjang ke belakang, dengan lebar maksimal terletak pada bagian temporal (sekitar telinga). Demikian pula dahinya terlihat sangat datar, dengan penonjolan signifikan pada tulang keningnya.

Lebih ke bawah, muka fosil ini tampak menjorok ke depan, dengan alat-alat kunyah (rahang dan gigi) yang cukup kekar dibandingkan dengan keseluruhan tengkorak. Terlebih lagi, tidak terdapat dagu pada rahang bawah, dan pada bagian depan rahang-di bagian dalam-terdapat planum alveolaris yang cukup berkembang, dan bagian ramus mandibula yang bersambungan dengan dasar tengkorak, terlihat condong ke belakang. Beberapa karakter pada struktur tengkorak di atas yang mengingatkan pada karakter Homo erectus hampir- hampir tidak dijumpai lagi di kalangan fosil-fosil Homo sapiens.

Di sinilah arti penting fosil dari Liang Bua Flores ini: satu individu yang mempunyai karakter dari dua spesies Homo yang terakhir, Homo erectus dan Homo sapiens. Lalu, posisinya pun lebih gampang direkonstruksi. Ia merupakan fosil transisi evolutif dari spesies erectus yang hidup pada 1,5-0,1 juta tahun lalu di Jawa, dan Homo sapiens, fosil yang selama ini baru diinventaris paling tua dari 13.000 tahun lalu di jajaran Gunung Sewu.

Jadi, penemuan ini sangat jamak kalau menjadi penemuan yang sangat penting karena dia mampu menjawab persoalan pokok dunia paleoantropologi Indonesia saat ini tentang penghubung antara Homo erectus terakhir dan Homo sapiens pertama di kepulauan Nusantara ini. Salah satu jawabannya adalah Homo floresiensis.

Tempat penemuan di Pulau Flores telah memberikan arti tersendiri bahwa lingkungan insuler di daerah Nusa Tenggara Barat dan Timur adalah lokasi yang tidak kalah penting dibandingkan dengan Pulau Jawa di sebelah baratnya. Tak jarang dilaporkan temuan-temuan penting dari kawasan ini, seperti artefak berusia 900.000 tahun, dan juga fosil Stegodon sp (gajah purba) kerdil. Sekarang, dilengkapi dengan manusia kerdilnya pula.

Oleh karena itu, Liang Bua sangat mungkin merupakan salah satu jalur penting dari migrasi manusia dari barat ke timur selama Kala Plestosen, dan merupakan salah satu tempat penting dari penanggalan baju Homo erectus untuk digantikan dengan baju Homo sapiens, sekitar 18.000-30.000 tahun yang silam. Ada baiknya posisi temuan ini bukan dianggap sebagai sebuah penemuan spesies baru, karena usia yang dimilikinya berada dalam wilayah evolusi Homo sapiens, tetapi lebih tepat dianggap sebagai salah satu subspesies baru dari Homo sapiens sehingga namanya adalah Homo sapiens floresiensis.

Masih banyak hal yang harus dikonfirmasi secara ilmiah dari penemuan ini. Masih banyak informasi yang harus digali dan dicermati lagi karena toh penelitian ini belum berakhir….

Harry Widianto Peneliti pada Balai Arkeologi Yogyakarta

Sumber: Kompas, 5 November 2004

Posted by Sinta at November 5, 2004 04:21 AM

Comments

Post a comment




Remember Me?