« Pengelolaan Benda Cagar Budaya | Main | Pelatihan Peningkatan Kapasitas Organisasi Pelestarian di Sumatra »

October 14, 2004

Pemkot Lalai Jaga Bangunan Bersejarah

Satu Lagi Bangunan Bersejarah di Semarang Hilang.
Kota Semarang kembali kehilangan satu lagi
bangunan bersejarah. Sejak beberapa tahun silam, bangunan sebelah
barat Hotel Du Pavillon atau yang sekarang disebut Hotel Dibya Puri
dibongkar.

Semula di lokasi itu terdapat bangunan yang menghadap ke arah barat.
Namun saat ini yang ada hanya tinggal reruntuk bangunan. Beberapa
tembok memang masih berdiri. Namun hal itu hanya merupakan peninggalan
sejarah yang kini sudah sulit untuk diselamatkan.

Sebuah cukilan sejarah tentang hotel tersebut, kini masih terpasang di
dinding Hotel Dibya Puri. Pada cukilan sejarah itu tertulis, bahwa
hotel Du Pavillon dibangun tahun 1847. Hotel itu semula terdiri dari
sekelompok bangunan yang saling berhubungan.

Sebagaimana bangunan-bangunan lain di sepanjang Jalan Pemuda, hotel
tersebut juga menghadap ke selatan. Sementara di sebelah barat,
terdapat bangunan yang lebih menjorok ke depan. Bangunan itulah yang
kini sudah tidak ada lagi, dan hanya tinggal reruntukan.

Menurut cukilan sejarah itu, Hotel Dibya Puri awalnya merupakan sebuah
villa berlantai dua, yang kemudian disewakan sebagai losmen. Pada saat
itu di Kota Semarang hanya terdapat satu hotel, yakni Hotel Jansen
yang sekarang juga sudah tak ada lagi. Letaknya di lokasi depan
Satlantas Polwiltabes Semarang dan kini menjadi tempat menyimpan
kendaraan yang ditahan Polisi setelah mengalami kecelakaan. Menjelang
pertempuran lima hari di Semarang, hotel tersebut menjadi markas
pemuda pejuang.

Akibat pertempuran bersejarah yang diperingati setiap tanggal 14
Oktober itu, beberapa bagian du Pavillon rusak. Kini bangunan Hotel Du
Pavillon yang masih ada berfungsi sebagai Hotel Dibya Puri.

Menurut berbagai kalangan, bangunan hotel tersebut memiliki nilai
arsitektur yang tinggi. Seperti banyak bangunan yang dibangun pada
zaman Belanda, hotel tersebut bergaya Eropa klasik. Pada beberapa
bagian terlihat pilar-pilar besar yang berfungsi sebagai penyangga.

Asisten General Manager Hotel Dibya Puri Christi Atmani, saat
dihubungi menjelaskan bahwa hotel tersebut kini dikelola BUMN PT Hotel
Indonesia Natour. Menurutnya, lahan yang kini jadi reruntuk bangunan
itu, saat ini tidak menjadi bagian dari Hotel Dibya Puri.

Dia mengaku belum mengetahui secara persisi pemiliknya saat ini,
tetapi dia pernah menerima informasi bahwa lahan itu telah dibeli
pengelola Hotel Metro. ''Setahu saya lahan itu sudah dijual sejak
tahun 1960,'' kata dia.( purwoko seno/CN07 )

Dikutip dari :
Suara Merdeka CyberNews | http://www.suaramerdeka.com/
Kamis, 14 Oktober 2004

Posted by admin at October 14, 2004 06:20 AM

Comments

Hello folks nice blog youre running

Posted by: lolita at January 20, 2005 02:09 AM

Post a comment




Remember Me?