« Pecinan Semarang | Main | BADAN PELESTARIAN PUSAKA INDONESIA ( BPPI ) »

October 20, 2004

Mengulik Saujana Budaya Tiga Kawasan Cagar Budaya Di Yogyakarta

oleh: Rohman Yuliawan

Jeron Beteng, Kotabaru dan Kotagede
(disarikan dari tulisan pengantar untuk proyek pembuatan Peta Hijau Saujana Budaya)

Pada rentang bulan Oktober 2003 hingga April 2004, komunitas Peta Hijau Yogyakarta (greenmapper jogja) melakukan pemetaan saujana budaya di tiga kawasan cagar budaya di wilayah Yogyakarta. Kawasan pertama adalah Jeron Beteng di Kecamatan Kraton, titik awal kota Yogyakarta. Yang kedua adalah Kotabaru, permukiman mandiri bernuansa kolonial yang dikembangkan pada tahun 1920-an. Kawasan terakhir adalah Kotagede, cikal bakal kerajaan Mataram Islam yang kini dicirikan oleh aktifitas ekonomi lokal dan kultural yang masih kental.

Untuk mengungkap kenyataan ekologi dan budaya di ketiga kawasan, dipakai pendekatan Saujana Budaya. Secara singkat Saujana Budaya dapat didefinisikan sebagai keseluruhan batas pandang yang mencakup semua aspek budaya dan lingkungan ada di dalamnya. Dalam persepektif Saujana Budaya, kedua aspek tersebut saling terkait baik dalam pola historis, sosial, ekonomi, lingkungan maupun budaya.

Saujana Budaya adalah padanan Bahasa Indonesia untuk istilah Cultural Landscape dan merupakan cara pandang baru dalam aksi konservasi budaya. Selama ini upaya-upaya konservasi budaya selalu mengkaji aspek lingkungan dan budaya sebagai entitas yang terpisah, padahal dalam banyak hal hasil kebudayaan sangat dipengaruhi oleh lingkungannya dan sebaliknya. Contohnya, hasil-hasil kerajinan tradisional umumnya terbuat dari bahan alami yang mudah ditemukan di kawasan tersebut (misalnya: daun pandan, serat agel, gedebok pisang, kayu jati, dll). Kemudian pola kurva linear pada jalan-jalan penghubung dan bangunan-bangunan bergaya vila dengan beranda pandang di Kotabaru, Yogyakarta, adalah bentuk respon arsitektural pada lahan tepi sungai yang indah namun landai dan berkelok.

Pada sisi lain, bentukan sebuah lingkungan juga tak lepas dari pengaruh kebudayaan yang tumbuh disekitarnya. Contohnya; jenis-jenis tumbuhan di lingkungan Jeron Beteng dan Kotagede sangat spesifik karena dipilih berdasarkan simbolisasi dalam budaya Jawa, misalnya sawo kecik, kepel, beringin, kanthil, asem dll. Lingkungan pemukiman yang khas, dalam bentuk deretan rumah yang berhimpit di sepanjang sisi dalam bekas tembok Beteng Kraton Yogyakarta dan di sekitar Dalem milik kerabat Kraton terbentuk oleh konvensi tradisional “magersari” dan “ngindung”. Konsep “angker” atau “keramat” pada pohon-pohon tertentu, semisal beringin, gayam atau randu, (mungkin) dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan sumber air di sekitar pohon-pohon tersebut. Contoh lain, misalnya bentang alam di persawahan Bali dengan sistem subak-nya, dimana juga mencerminkan campur tangan budaya (dalam arti: olah pikir manusia) pada lingkungan.

Jadi, sebuah pusaka budaya (heritage), baik yang wujud (tangible) maupun tak wujud (intangible), dalam sudut pandang saujana budaya adalah perpaduan antara aspek budaya dan aspek lingkungan yang saling mempengaruhi dan saling melengkapi dalam pembentukannya dan menyatu sebagai entitas utuh yang membentuk karakter khas suatu kawasan.

Saujana Budaya Jeron beteng
Tahukah anda kenapa pohon beringin menjadi vegetasi dominan di daerah Jeron Beteng? Tahukah anda sejarah pengelompokan pemukiman dan nama-nama kampung di kawasan ini? Pertimbangan apa yang mendorong Pangeran Mangkubumi memilih Hutan Bering sebagai titik awal membangun Kraton Yogyakarta di tahun 1755 M?

Pertanyaan-pertanyaan kecil semacam itu seringkali tidak mudah terjawab oleh kita, bahkan mungkin oleh warga yang bermukim di kawasan Jeron Beteng sekalipun. Elemen-elemen budaya maupun lingkungan kawasan Jeron Beteng sebenarnya adalah bagian dari sebuah konteks besar kebudayaan yang berkembang di pusat . Puluhan atau bahkan mungkin ratusan pohon beringin, kepel, sawo kecik adalah beberapa jenis tumbuhan yang ditanam sebagai perlambang nilai budaya yang disepakati di wilayah Jeron Beteng. Kampung Siliran, Gamelan, Patehan, Nagan, Taman, Kadipaten dan lain-lain adalah tata nama yang merangkum kisah panjang mengenai tata mukim masa lampau.

Demikian juga setiap bangunan dan fasilitas umum di kawasan ini pada dasarnya adalah bagian dari tata budaya besar yang menjadi konteksnya. Sebuah saujana budaya. Sebuah bentang pandang yang lengkap, mencakup kekayaan lingkungan dan budaya yang keberadaannya pengaruh-mempengaruhi satu sama lain.

Rentang panjang 249 tahun yang dilewatinya melahirkan beragam peyikapan. Generasi demi generasi berbagi pemaknaan yang berbeda pada konsep-konsep sakral yang berlaku di sana. Toponim kampung yang menyiratkan pembagian tempat mukim berdasarkan profesi, tempat tinggal pangeran maupun tapak peninggalan kini kabur tinggal nama. Gamelan tidak lagi hanya dihuni abdi pengurus kuda istana; Siliran bukan lagi kampung khusus untuk abdi dalem Silir, abdi urusan penerangan Keraton dan Langenastran bukanlah barak untuk perajurit Langenastra. Konvensi yang menyatakan orang asing dilarang tinggal di kawasan Jeron Beteng tak lagi dipatuhi. Bangunan-bangunan dua lantai setinggi lebih dari 7 meter, ketinggian maksimal yang “diijinkan” di kawasan Jeron Beteng, bermunculan tanpa ada teguran. Bahkan sebuah pusat belanja kini didirikan di lingkungan dalam Kraton!

Kegagapan, jika boleh disebut demikian, dalam menghadapi tatanan dan tuntutan masa kini secara evolutif akan melahirkan cara pandang baru pada nilai lama. Pada prosesnya tak terhindarkan muncul benturan-benturan budaya. Pada sisi inilah Jeron Beteng sebagai sebuah kawasan menarik untuk dipetakan, sehingga pengenalan dan pemahaman kita mengenai kawasan ini akan semakin utuh.


Saujana Budaya Kotagede
Sejarah Kotagede bermula dari dibukanya Alas Mentaok oleh Ki Ageng Pemanahan pada tahun 1575 M. Daerah yang dihadiahkan kepadanya oleh Sultan Hadiwijaya, raja Kerajaan Pajang atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang, kemudian dijadikan ibukota Kerajaan Mataram Islam di tahun 1586 M oleh anaknya, Panembahan Senapati (Danang Sutawijaya). Ibu kota kerajaan sempat berpindah beberapa kali, dari Kotagede ke Plered dan kemudian Kartasura. Setelah berpindah ke Kartasura, sejarah mencatat pertikaian internal keluarga kerajaan berujung pada dipisahkannya Kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta berdasar perjanjian Giyanti ( 13 Februari 1755 M).

Secara administratif, wilayah Kotagede sebagian termasuk Kabupaten Bantul dan sebagian lainnya Kotamadya Yogyakarta. Namun secara kultural, yang disebut Kotagede adalah keseluruhan wilayah bekas ibukota Mataram yang terbagi dalam kekuasaan Surakarta dan Yogyakarta.

Rentang sejarah panjangnya mengukir banyak pesona dan meninggalkan pusaka budaya yang tak ternilai. Sebagai kerajaan Jawa, tata kota kawasan ini mengacu prinsip Catur Gatra Tunggal yang direpresentasikan dengan adanya Kraton, Alun-alun, Masjid dan Pasar. Kraton menjadi titik orientasi arsitektur karena dianggap pusat keseimbangan mikrokosmos dan makrokosmos (inti filosofi kebudayaan Jawa). Karena itu setiap rumah di kawasan ini menghadap pada titik dimana pusat pemerintahan (dulu) berada. Antar rumah warga berbagi jalan pintas (jalan rukunan) karena jalan komunitas memanjang disamping deretan pemukiman.

Paska berakhirnya status Kotagede sebagai ibukota Mataram (16 M), aktifitas kota ini lebih dikarakterisasi oleh kegiatan ekonomi. Perdagangan dan kerajinan batik, perak, emas dan tembaga mencuatkan nama Kotagede sebagai sentra kerajinan rakyat. Di masa kolonial Belanda, Kotagede sempat tersohor sebagai pusat perdagangan intan terbesar di Asia karena beberapa pedagang mendapatkan konsesi penjualan intan dari pemerintah. Komunitas Kalang yang dikenal sebagai pakar bangunan-bangunan kayu meninggalkan karya arsitektur berupa rumah-rumah besar dan indah bergaya persilangan

Belakangan ini nama Kotagede kembali banyak diekspos oleh media-media elektronik. Lorong-lorong kampung yang sempit diapit tembok-tembok tinggi rumah-rumah dengan langgam klasik yang dihubungkan satu jalan rukunan, menjadi obyek menarik untuk rubrik pariwisata di televisi. Rumah-rumah tua yang lama tak ditinggali menyimpan kisah-kisah seram yang menjadi “urban legend”, legenda kolektif masyarakat Kotagede. Legenda Rumah Kanthil salah satunya.

Kotagede masa kini adalah potret kota tua yang mencoba berdialog, berharmoni dengan kemudaan modernitas. Mobil berbagi jalan yang sempit, rumah-rumah mewah diapit pemukiman padat berarsitektur tradisional dan menara-menara besi mencuat di sela bangunan berusia ratusan tahun. Festival Kotagede yang telah berjalan empat kali pun menyatu-panggungkan kesenian tradisional dengan band populer. Apakah di Kotagede tradisi bisa terus sejalan dengan modernitas? Mari kita kenali dengan sebuah peta hijau!


Saujana Budaya Kotabaru
Kawasan Kotabaru dikembangkan tidak berselang lama setelah dikerjakannya Menteng, kota taman pertama di Indonesia oleh Ir. P.A.J. Mooejen di tahun 1913. Meskipun tidak seluas dan selengkap Menteng, kawasan ini pernah menjadi “kota mandiri” yang kaya fasilitas dan paling tertata pada masanya. Kotabaru menjadi perluasan perkampungan Eropa yang berkembang sebelumnya di Loji Kecil (sebelah timur beteng Vredeburg) dan Bintaran. Pada masanya, kompleks permukiman tersebut banyak dihuni oleh pensiunan perajurit, pengusaha perkebunan dan pegawai pabrik gula.

Kotabaru ditandai oleh bangunan-bangunan tunggal bergaya art deco dan berarsitektur indies. Bangunan-bangunannya dilengkapi halaman luas dan diteduhi pepohonan besar, tertata rapi dalam blok-blok hunian yang dipisahkan ruas-ruas jalan lebar dan teratur yang menjadikan Kotabaru salah satu kawasan paling nyaman di Yogyakarta, bahkan hingga saat ini. Beberapa bagian memang masih dipertahankan menjadi kawasan hunian yang nyaman, dengan rumah-rumah berarsitektur asli dan halaman lebar yang teduh. Akan tetapi, mulai tahun 1980-an sebagian besar bangunan telah beralih peruntukan menjadi tempat kegiatan ekonomi, terutama di sepenghadap Jl. Jendral Soedirman dan Jl. Suroto.

Terletak hanya dua kilometer dari pusat kota, Kotabaru masa kini mewarisi fasilitas publik yang cukup lengkap, mulai dari gereja, masjid, gedung pertemuan, stadion dan gelanggang olahraga, sekolah dasar, menengah hingga perguruan tinggi dan rumah sakit. Pusat-pusat kebudayaan yang ramai aktifitas muncul belakangan namun mampu menjadikan Kotabaru sebagai salah satu kantung budaya yang cukup penting di Yogyakarta. Dari sisi kesejarahan, kawasan ini pernah mejadi ajang pertempuran dahsyat melawan tentara Jepang saat peralihan kekuasaan. Puluhan pejuang gugur dan sebagian nama mereka kemudian diterakan menjadi nama jalan di seputaran Kotabaru.

Salah satu sudut Kotabaru yang paling menarik justru terletak di sisi yang “terlupakan”: tepi Kali Code. Mulai tahun 1970-an sisi timur bantaran kali di sebelah selatan Jembatan Gondolayu ini dirambah pemukim liar. Berkali-kali terlanda banjir dan dianggap mengotori pemandangan kota, pemerintah daerah berupaya menggusur pemukiman ini dan menjadikannya taman kota. Namun berkat sentuhan YB Mangunwijaya, pastor, arsitek dan budayawan yang sempat tinggal bertahun-tahun di sana, mulai tahun 1982 pemukiman bantaran kali ini terlihat indah dengan bangunan berarsitektur unik, bercat warna-warni dan menjadi momen diakomodasinya kelompok marjinal dalam struktur kota.

Kotabaru masa kini lebih kental nuansa ekonominya. Median-median jalan menjadi tempat mangkal pedagang kaki lima, rumah-rumah tinggal beralih fungsi menjadi kantor-kantor, lembaga pendidikan, factory outlet, cafe, toko buku, dll. Kepentingan ekonomi pulalah yang telah mengubah wajah asli Kotabaru sebagai bekas pemukiman kolonial. Sampai kapan dan seberapa jauh? Ayo kita catat perkembangannya dalam sebuah peta hijau!

Sumber : Green Map Indonesia

Posted by admin at October 20, 2004 09:05 AM

Comments

Post a comment




Remember Me?